Rabu, 09 Mei 2012

laporan lengkap praktikum fisiologi tumbuhan universitas tadulako palu

HALAMAN PENGESAHAN Judul : Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan Tujuan : Untuk mengetahui potensial osmotik dari umbi kentang (Solanum tuberosum.L), untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan pada laju transpirasi tumbuhan, untuk mempelajari pengaruh turgor terhadap mekanisme membuka dan menutupnya stomata, untuk menentukan kadar klorofil daun dengan pengukuran menggunakan Spektrofotometer, untuk mendeteksi jenis-jenis pigmen pada suatu daun tumbuhan, untuk mengetahui pengaruh pada larutan terhadap proses imbibisi pada biji, untuk mengetahui berbagai zat pengatur tumbuh pada kecambah biji, dan untuk mengetahui hormon auksin dalam pengontrolan pemanjangan jaringan. Nama : Sri Rahayu Lestari Stambuk : E 281 10 027 Program Studi : Agroteknologi Fakultas : Pertanian Universitas : Tadulako Palu, November 2011 Menyetujui, Koordinator Praktikum Asisten Penanggung Jawab Muhamad Ridwan Muhamad Ridwan E 281 08 034 E 281 08 034 UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, serta junjungan kami Rasulullah SAW karena atas limpahan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan lancar dan baik tanpa adanya hambatan. Dengan adanya pembuatan laporan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen penanggung jawab Praktikum Fisiologi Tumbuhan ini, serta tak lupa juga kepada para asisten Fisiologi Tumbuhan khususnya koordinator praktikum sekaligus sebagai asisten penanggung jawab, serta asisten-asisten yang lainnya yang tidak dapat yang telah membimbing dan membantu praktikan dalam menyelesaikan laporan praktikum Fisiologi Tumbuhan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan lengkap praktikum Fisiologi Tumbuhan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritikan dan saran yang sifatnya konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapakan demi kesempurnaan laporan ini. Palu, November 2011 Penyusun KATA PENGANTAR Puji syukur patut kita haturkan kehadirat Allah SWT, sebagai penguasa yang Akbar bagi seluruh alam semesta karena atas rahmat dan berkat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dengan waktu yang telah ditentukan. Laporan ini dibuat semaksimal mungkin dan dengan berusaha menghindarkan dari kesalahan dan kekurangan. Karena penulis menyadari, bahwasanya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikkan penulisan laporan selanjutnya. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Akhirnya semoga Allah SWT, senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua agar apa yang kita cita-citakan menjadi sukses. Amin-amin ya rabal alamin. Palu, November 2011 Penyusun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kentang (Solanum tuberosum .L) merupakan tanaman dikotil yang bersifat semusim karena hanya satu kali berproduksi setelah itu mati, berumur pendek antara 90-180 hari, dan berbentuk semak/herba. Batangnya yang berada di atas permukaan tanah ada yang berwarna hijau, kemerah-merahan, atau ungu tua. Akan tetapi, warna batang ini juga dipengaruhi oleh umur tanaman dan keadaan lingkungan. Pada kesuburan tanah yang lebih baik atau lebih kering, biasanya warna batang tanaman yang lebih tua akan lebih menyolok. Bagian bawah batangnya bisa berkayu. Sedangkan batang tanaman muda tidak berkayu sehingga tidak terlalu kuat dan mudah roboh. Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18. Pusat tanaman kentang utama di Indonesia adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Di Indonesia kentang sangat digemari hampir semua orang. Bahkan di beberapa daerah, ada yang menjadikannya makanan pokok. Selain itu, kentang juga banyak mengandung vitamin B, vitamin C, dan sejumlah vitamin A. Sebagai sumber karbohidrat yang penting, kentang masih dianggap sebagai sayuran yang mewah (Inaw,2010). Potensial air adalah potensial kimia air dalam suatu system atau bagian system. Dinyatakan dalam satuan tekanan dan dibandingkan dengan potensial kimia air murni (juga dalam satuan tekanan) pada tekanan atmosfer dan pada suhu serta ketinggian yang sama potensial murni ditentukan sama dengan nol. Faktor-faktor penghasil gradient yaitu konsentrasi atau aktifitas, suhu, tekanan, efek larutan terhadap potensial kimia pelarut, matriks. Mengukur metode air dengan metode volume jaringan, metode chordate, metode tekanan uap. (Dnabi, 2010) Mengukur Potensial air umbi kentang (Solanum tubersum .L) yaitu untuk mengetahui adanya potensial osmotic pada tanaman tersebut sehingga dapat mengukur potensial air pada tanaman tersebut. 1.2 Tujuan dan kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui potensial osmotic dari umbi kentang (Solanum t.L). Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengukur potensial umbi kentang (Solanum t.L) agar mampu melakukan potensial air, serta mampu menjelaskan konsep osmotic pada sel hidup. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Kentang Kentang (Solanum tuberosum .L) adalah salah satu jenis sayuran subtropis yang sudah cukup populer di Indonesia. Daya tarik sayuran ini terletak pada umbi kentang yang kaya karbohidrat dan bernilai gizi tinggi. Di Indonesia kentang sudah dijadikan bahan pangan alternatif atau bahan karbohidrat substitusi (pengganti), terutama dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan pangan masyarakat Indonesia di samping beras. Menurut FAO pada tahun 1998 produksi kentang di dunia masih didominasi oleh negara-negara subtropis seperti Amerika Serikat yang produktivitasnya sebesar 38.43 ton/ha, Belanda 37.80 ton/ha, Selandia Baru 35.21 ton/ha, dan Jepang 32.69 ton/ha. Sementara di Indonesia produktivitasnya masih tergolong rendah yaitu rata-rata 17.39 ton/Ha meskipun berdasarkan hasil penelitian potensi produksi Indonesia bisa mencapai 30 ton/Ha (Ria cahya, 2011). Kentang merupakan tanaman semusim berbentuk herba dan termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae dari famili Solanaceae yang menghasilkan umbi. Solanum tuberosum subsp tuberosum, kentang komersial adalah tetraploid (2n=2x=48) tetapi sekitar 70% dari kentang liar adalah diploid (2n=2x=24) dengan sifat self incompatible, dan sekitar 15% adalah tetraploid dengan sifat self fertil. (Ria cahya, 2011). Tanaman Kentang merupakan tanaman dikotil bersifat semusim, berbentuk semak atau herba dengan filotaksis spiral. Tanaman Kentang diklasifikasikan sebagai berikut : Kelas: Dicotyledonae, Ordo: Tubiflorae, Famili: Solanaceae, Genus: Solamun, Spesies: Solamun tuberosum L. Di Jawa terdapat tanaman mirip Kentang yang disebut Kentang Hitam (Jawa Kentang Ireng). Kentang jenis ini tidak termasuk dalam Genus Solamun tetapi dalam genus Coleus, famili labiatae, dan spesiesnya disebut Coleus tuberosus Benth (Anggabhandel, 2010). Adapun beberapa morfologi tanaman kentang yaitu Batang tanaman kentang berongga dan tidak berkayu, kecuali pada tanaman yang sudah tua bagian bawah batang dapat berkayu. Batang ini umumnya barsudut dan bersayap. Tergantung pada kultifarnya, sayap pada batang ini berbeda-beda, ada yang tampak jelas dan ada pula yang kurang jelas. Pada yang jelas bersayap, sayapnya sempit atau lebar, tepinya lurus atau bergelombangdan berjumlah satu atau lebih.Pertumbuhan batang memiliki tiga tipe tumbuh sebagai berikut: Tegak : membentuk sudut > 45 dari permukaan tanah, menyebar membentuk sudut antara 30 - 45 dari permukaan tanah dan menjalar pada tanaman non budi daya atau non komersial, kecuali pada tanaman yang sudah tua (Anggabhandel, 2010). Daun pada tanaman Kentang merupakan daun majemuk yang terdiri atas tangkai daun utama (rachis), anak daun primer (pinnae), dan anak daun sekunder (folioles) yang tumbuh pada tangkai daun utama diantara anak daun primer. Bagian rachis dibawah pasangan daun primer yang terbawah disebut petiola. Daun majemuk tanaman kentang, pada dasarnya tangkai daunnya mempunyaitunas ketiak yang dapat berkembang menjadi cabang sekunder dengan sistem percabangan simpodial (Anggabhandel, 2010). Bunga Kentang adalah zigomorf ( mempunyai bidang simetris), berjenis kelamin dua (hermaproditus atau bunga sempurna), warna mahkota bunga (corolla) putih, merah jambu, atau ungu. Daun kelopak (calyx), daun mahkota (corlla) dan benang sari (stamen) masing-masing berjumlah lima buah dengan satu bunga putik (pistilus). Mahkota berbentuk terompet dengan ujung seperti bintang. Lima buah benang sari berwarna kuning melingkari tangkai putiknya (Anggabhandel, 2010). 2.2 Mengukur Potensial Air Potensial Air merupakan energi yang dimiliki air untuk bergerak atau untuk mengadakan reaksi. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat kemampuan molekul-molekul air untuk melakukan difusi. Pada potensial air, air bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah (dari larutan encer ke larutan pekat, larutan encer lebih banyak mengandung air daripada larutan pekat) (Dnabi, 2010). Kuantitas air yang dibutuhkan oleh tanaman sangat berbeda-beda sesuai dengan jenis dan lingkungan dimana tumbuhan itu hidup. Tanaman herba menyerap air lebih banyak dibandingkan tanaman perdu. Pertumbuhan yang cepat dan pendeknya umur tanaman tersebut merupakan suatu usaha untuk menghindari diri dari kekurangan air yang menimpanya (Dnabi, 2010). Potensial air adalah potensial kimia air dalam suatu system atau bagian system. Dinyatakan dalam satuan tekanan dan dibandingkan dengan potensial kimia air murni (juga dalam satuan tekanan) pada tekanan atmosfer dan pada suhu serta ketinggian yang sama potensial murni ditentukan sama dengan nol. Faktor-faktor penghasil gradient yaitu konsentrasi atau aktifitas, suhu, tekanan, efek larutan terhadap potensial kimia pelarut, matriks. Mengukur metode air dengan metode volume jaringan, metode chordate, metode tekanan uap. Hubungan antar potensial air adalah dengan melibatkan peristiwa osmose karena osmose merupakan peristiwa difusi dimana antara 2 tempat tersedianya difusi dipisahkan oleh membrane atau selaput. Maka dapat diartikan bahwa dinding sel atau membrane protoplasma adalah merupakan membrane pembatas antara zat yang berdifusi karena pada umumnya sel tumbuh-tumbuhan tinggi mempunyai dinding sel maka sebagian besar proses fitokimia dalam tumbuh-tumbuhan adalah merupakan proses osmose. Pada fisiologi tanaman adalah hal biasa untuk menunjukkan energi bebas yang di kandung di dalam air dalam bentuk potensial air (ψ) (Heddy.S, 2000). Definisi dari potensial air adalah energi per unit volume air, potensial air berbanding lurus dengan suhunya. Potensial osmotic merupakan potensial kimia yang disebabkan adanya materi yang terlrut. Potensial osmotic selalu memiliki nilai negative, hal ini disebabkan karena cenderung bergerak menyebrangi membrane semi permeable dari air murni menuju air yang mengandung zat terlarut (Heddy.S, 2000). Besar jumlah potensial air pada tumbuhan dipengaruhi oelah 4 macam komponen potensial, yaitu gravitasi, matriks, osmotic dan tekanan. Potensial gravitasi bergantung pada air didalam daerah gravitasi . potensial matriks bergantung pada kekuatan mengikat air saat penyerapan. Potensial osmotic bergantung pada hidrostatik atau tekanan angina dalam air (Heddy.S, 2000). III. METODOLGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Mengukur Potensial Air Umbi Kentang dilakukan pada hari Rabu tanggal 12 Oktober 2011 mulai pukul 14.00 - selesai WITA di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah Pisau, silet, atau cutter, Antena radio, botol selai, mistar dengan skala milieter dan kertas label. Bahan-bahan yang digunakan adalah Umbi kentang (Solanum tubersum .L) yg berukuran besar dan sari larutan sukrosa. 3.3 Cara Kerja Memilih umbi kentang (Solanum tubersum .L) yang besar, lalu membuat silinder umbi dengan alat pengebor (antena radio) sepanjang 40 mm sebanyak 4 buah. Menyiapkan 4 botol yg masing-masing telah diisi larutan satu konsentrasi, kemudian memasukkan potongan umbi ke dalam botol, masing-masing di isi 4 potongan umbi, mengerjakan dengan cepat untuk mengurangi penguapan. Menutup botol dengan rapat dan menggunakan alumunium foil selama percobaan berlangsung. Membiarkan silinder umbi dalam larutan selama 2 jam untuk member kesempatan pada umbi melakukan keseimbangan dengan larutan sukrosa. Setelah 2 jam, umbi dari botol di ambil dan di ukur kembali panjang masing-masing umbi tersebut. Kemudian mencatat hasil pengukuran pada buku, lalu menghitung panjang rata-rata dari keempat umbi yang ada. Membuat grafik dari data yang di peroleh dengan hasil molaritas sebagai sumbu X dan rata-rata sebagai sumbu Y. Terakhir menentukan grafi pada konsentrasi berapa molar silinder umbi yang tidak mengalami perubahan panjang. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1. Pengamatan potensial air umbi kentang (Solanum tuberosum .L) No Perlakuan kontrol X2 X1 Xselisih 1 0,2 4 4,17 0,17 2 0,4 4 3,8 -0,2 3 0,6 4 3,84 -0,16 4 0,8 4 3,57 -0,43 5 1,0 4 3,65 -0,35 Grafik 1. Pengamatan potensial air umbi kentang selama 2 jam Hasil rata-rata = total hasil akhir – total hasil awal = 19.03-20 = -0.97 4.2 Pembahasan Pada praktikum ini menggunakan umbi kentang yang telah dilubangi dengan menggunakan alat pengebor (Antena radio). Umbi yang telah dimabil masing-masing di potong dengan panjang 4 cm. Kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah diisi dengan larutan sukrosa dengan konsentrasi molaritas yang berbeda-beda. Kentang yang telah direndam kemudian didiamkan di dalam botol selama 2 jam dengan ditutup alumunium foil, supaya tidak terjadi penguapan yang terlalu besar. Setelah 2 jam, umbi kentang (Solanum tubersum .L) diukur panjangnya kembali. Dari pengamatan ini, diketahui kentang mengalami perubahan panjang, ada yang bertambah panjang, namun juga ada yang mengalami pengurangan panjang. Di sini kentang tidak begitu mengalami perubahan panjang, hanya beberapa umbi kentang saja yang bertambah panjangnya. Dari hasil keseluruhan diperoleh rata-rata panjang setelah proses osmosis. Hal ini berarti ada sebagian molekul air yang berpindah ke dalam potongan kentang selama kentang direndam di larutan sukrosa. Pada pengamatan ini diperoleh hasil pada perlakuan awal 0.2 dengan rata-rata 0.17, 0.4 dengan rata-rata -0.2, 0.6 dengan rata-rata -0.16, 0.8 dengan rata-rata -0.43, dan 1.0 dengan rata-rata -0.35. Kentang (Solanum tubersum .L) adalah tanaman dikotil yang bersifat semusim karena hanya satu kali berproduksi setelah itu mati, berumur pendek antara 90-180 hari. Berbentuk semak/herba. Batangnya berada di atas permukaan tanah ada yang berwarna hijau, kemerah-merahan, atau ungu tua.Tetapi, warna batang ini juga dipengaruhi oleh umur tanaman dan keadaan lingkungan. Pada kesuburan tanah yang lebih baik atau lebih kering, biasanya warna batang tanaman yang lebih tua akan lebih menyolok. Bagian bawah batangnya bisa berkayu. Sedangkan batang tanaman muda tidak berkayu sehingga tidak terlalu kuat dan mudah roboh (Inaw, 2010) V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan Mengukur potensial air umbi kentang diperoleh kesimpulan sebagai berikut : a. Terjadi perubahan panjang pada umbi kentang setelah proses osmosis. b. Sebagian molekul air yang berpindah ke dalam potongan kentang selama kentang direndam di larutan sukrosa. c. Kentang juga merupakan tanaman dikotil yang bersifat semusim karena hanya satu kali berproduksi setelah itu mati. d. Dari hasil keseluruhan diperoleh rata-rata dari perlakuan kontrol yaitu 0.2 dengan rata-rata 0.17, 0.4 dengan rata-rata -0.2, 0.6 dengan rata-rata -0.16, 0.8 dengan rata-rata -0.43 dan 1.0 dengan rata-rata -0.35. 5.2 Saran Alat dan bahan yang di laboratorium perlu dilengkapi. Pada saat melakukan pengamatan mengenai Mengukur Potensial Air Umbi Kentang (Solanum tubersum .L). Sehingga menyebabkan kesalahan pada perhitungan dan hasil pengamatan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transpirasi adalah proses menghilangnya air berbentuk uap melalui stomata pada setiap tumbuhan. Besar uap air yang menghilang dari dalam jaringan tanaman berlangsung selama tumbuhan masih hidup. Transpirasi dapat dikatakan proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui kegiatan tanamn yang dapat terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang oleh stomata oleh sebab itu dalam perhitunganya besarnya jumlah air yang hilang dari jarinagn tanaman umumnya difokuskan untuk air yang hilang melalui stomata. Proses transpirasi berlangsung selama tumbuhan hidup (Lakitan, 2007). Pengangkutan garam mineral dari akar ke daun terutama lewat xilem dan kecepatanya dipengaruhi oleh kecepatan transpirasi. Transpirasi itu pada hakikatnya sama dengan penguapan akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Transpirasi tidak melalui kutikula, stomata, dan inti sel sebenarnya seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi akan tetapi biasanya yang dibicarakan transpirasi lewat daun tersebut. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi laju transpirasi adalah membuka dan menutupnya stomata, Suhu daun dan Suhu daun tanaman (Lakitan, 2007). Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara melewati permukaan daun tersebut lebih kering dari udara tumbuhan sekitar tersebut. Transpirasi menguntungkan tanaman, untuk beberapa alasan yaitu dapat menumbuhkan tanaman penghisapan dan pengangkutan serta meningkatkan hormon, mempengaruhi tanaman difusi secara langsung tidak langsung memperlancar difusi sel mempengaruhi absorbsi air dan mineral oleh akar, berperan penting dalam transportasi zat hara dari suatu bagian tanamn kebagian tanamn lainnya, mempengaruhi evaporasi dalam sejumlah air, memepertahankan kesetabilan suhu daun, dan berkaitran dengfan membuka dan menutupnya stomata yang secara tidak langsung tidak mempengaruhi teranspirasi dan respirasi (Lakitan, 2007). Pengetahuan mengenai hubungan air dengan iklim, air dan tanah telah banyak diperoleh selain dari penelitian juga dari pengamatan peradaban kuno. Umpanya di Israel dan afrika Utara. Masih banyak yang harus kita lakukan dalam bidang pemanfaatan dan pengawetan air oleh tumbuhan agar Bumi dapat memenuhi penduduknya yang berkembang dengan pesat (Lakitan, 2007). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan Pada laju transpirasi tumbuhan. Kegunaan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses transpirasi tumbuhan. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Jarak Pagar Jarak pagar (Jatropha curcas .L) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh kerabatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas (Akbar yakob, 2009). Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama di Indonesia: jarak kosta, jarak budeg (Sunda) jarak gundul, jarak pager (Jawa) kalekhe paghar (Madura) jarak pager, (Bali) lulu mau, paku kase, jarak pageh, (Nusa Tenggara) kuman nema, (Alor) jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene, (Sulawesi) ai huwa kamala, balacai, kadoto (Akbar yakob, 2009). Klasifikasi tanaman jarak pagar adalah Divisi: Spermatophyta, Subdivisi: Angiospermae, Kelas: dicotyledonae, Ordo: Euphoebiales, Famili: Euphorbiaceae, Genus: Jatropha, dan Species: Jatropha curcas linn (Ekyowinners, 2010). Tanaman jarak pagar tegolong dalam famili Euphorbiaceae, satu famili dengan karet dan ubi kayu.. Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1 – 7 meter, bercabang tidak teratur. Batangnya berkayu, silindris, dan akan mengeluarkan getah bila terluka. Bagian bagian yang terdapat pada tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut Daun tanaman jarak pagar adalah daun tunggal berlekuk dan bersudut 3 atau5 daun tersebar di sepanjang batang. Permukaan tas dan bawah daun berwarna hijau dengan bagian bawah lebih pucat daripada bagian atas. Daunnya lebar dan berbentuk jantung atau bulat telur melebar dengan panjang 5 -15 cm . helai daun menjari dengan jumlah 5 – 7 tulang daun utama. Daunnya dihubungkan dengan tangkai daun. Panjang tangkai daun antara 4 – 15 cm (Ekyowinners, 2010). Batang jarak pagar berkayu, silindris, dan akan mengeluarkan getah bila terluka, dan bercabang tidak teratur. Batang berwarna hijau kecoklatan (Ekyowinners, 2010). Bunga tanaman jarak pagar adalah bunga majemuk berbentuk malai, berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal, serta putik dan benang sari berada dalam satu tanaman. Bunga betina 4 – 5 kali lebih banyak dari bunga jantan. Bunga jantan maupun bunga betina tersusun dalam satu rangkaian berbentuk cawan yang tumbuh di ujung batang atau ketiak daun. Bunganya mempunyai lima kelopak berbentuk bulat telur dengan panjang kurang lebih 4 mm. benang sari mengumpul pada pangkal dan berwarna kuning. Bunganya mempunyai lima mahkota berwarna keunguan. Setiap tandan terdapat lebih dari 15 bunga. Jarak pagar termasuk tanaman monoecious dan bunganya uniseksual. Kadang kala muncul bunga hermaprodit yang berbentuk cawan berwarna hijau kekuningan (Ekyowinners, 2010). Buah yang terdapat pada tanaman jarak pagar berupa buah kotak berbentuk bulat telur dngan diameter 2 – 4 cm. panjang buah 2 cm dengan ketebalan 1 cm. buah berwarna hijau ketika muda serta abu abu kecoklatan atau kehitaman apabila sudah masak (Ekyowinners, 2010). Biji berbentuk bulat lonjong dan berwarna cokelat kehitaman. Biji inilah yang banyak mengamndung minyak dengan rendemen. Akar jarak pagar merupakan akar tunggang. System perakaran pada tanaman jarak pagar mampu menahan air dan tanah sehingga tahan terhadap kekeringan serta berfungsi sebagai tanaman penahan erosi (Ekyowinners, 2010). 2.2 Mengukur Laju Transpirasi Laju transpirasi ialah laju kehilangan air dari tumbuhan yang dihitung dalam satuan waktu. Laju hilangnya air dalam tumbuhan sangat beragam dipengaruhi siang hari, musim, struktur daun dan beberapa faktor lingkungan yang lain.laju kehilangn air pad abeberapa tumbuhan bunga pada tengah hari rata-rata sekitar 1,25 gram air per 100 cm persegi luasa daun setiap jam. Batang tanaman jagung bisa mentraspirasi lebih dari setengah liter air sehari dan satu tanaman jagung akan mentranspirasi lebih dari 300.000 selama masa tubuhnya (Akbar yakob, 2009). Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan (Akbar yakob, 2009). Kegiatan transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung sebagai pertukaran karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh menentukan banyak air jauh lebih banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri kecepatan hilangnya air tergantung sebagian besar pada suhu kelembapan relatif dengan gerakan udara (Akbar yakob, 2009). Pengangkutan garam-garam mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan secepatnya mempengaruhi oleh kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan penguapan, akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya transpirasi terjadi hilangnya molekul sebagian besar adalah lewat daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun dan karena daun-daun itu lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu (Akbar yakob, 2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi antara lain yaitu faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme membuka dan menutupnya stomata, kelembaban udara sekitar, suhu udara dan suhu daun tanaman (Lakitan, 2007 ). Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembaban nisbihnya rendah) dari udara sekitar tumbuhan tersebut. Kerapatan uap air diudara tergantung dengan resisitensi stomata dan kelembaban nisbih dan juga suku udara tersebut, untuk perhitungan laju transpirasi. Kelembaban nisbih didalam rongga substomata dianggap 100%. Jika kerapatan uap air didalam rongga substomata sepenuhnya tergantung pada suhu (Cambpell, 2003 ). Daya hantar secara langsung dipengaruhi oleh besarnya bukaan stomata. Semakin besar bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan ini daya hantar stomata berbanding dengan resistensi stomata (Cambpell, 2003 ). III. METODOLGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Mengukur Laju transpirasi dilakukan pada hari Rabu tanggal 12 Oktober 2011 mulai pukul 14.00 - selesai WITA di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah Dua buah botol plastic (1/2 liter) dan alimunium foil. Bahan-bahan yang digunakan adalah Minyak kelapa dan 2 pohon tanaman yaitu Jarak pagar (Jatropha curcas .L) 3.3 Cara Kerja Menyiapkan dua pucuk tanaman tanpa (40 cm), menyiapkan dua botol yang berisi air. Spesimen dimasukkan melalui mulut botol. Menimbang botol beserta tanamannya dan mencatat berat botol tersebut, kemudian meletakkan masing-masing satu botol di dalam dan di luar ruangan. Mengukur beratnya setiap 30 menit sebanyak 3 kali, lalu mengembalikannya ke tempat semula setelah penimbangan. Setelah penimbangan terakhir, mengambil tanaman dan mengukur luas daunnya dengan metode penimbangan dan juga menghitung kecepatan transpirasi dari masing-masing tanaman. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 2. Pengamatan mengukur laju transpirasi Jarak pagar (Jatropha curcas .L) No Perlakuan Berat awal (g) Berat akhir (g) Rata-rata 30 60 90 1 Dalam 1100 1100 1100 1030 1076.66 2 Luar 1100 1050 1040 1050 1046.66 Grafik 2. Pengamatan mengukur laju transpirasi Jarak pagar (Jatropha curcas .L) 4.2 Pembahasan Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan,terlihat jelas adanya perbedaan berat awal dan berat akhir pada semua perlakuan. Hal ini dikarenakan adanya transpirasi yang dilakukan oleh tanaman jarak pagar. Sehingga mendapatkan hasil yaitu perlakuan didalam dengan berat awal 1100 g menghasilkan berat akhir pada 30 menit pertama dan 30 menit kedua yaitu 1100 g (tidak terjadi perubahan) dan pada 30 menit terakhir yaitu 1030 g dengan rata-rata 1076.66, sedangkan untuk perlakuan diluar dengan berat awal 1100 g menghasilkan berat akhir pada 30 menit pertama yaitu 1050 g, 30 menit kedua 1040 g dan 30 menit terakhir yaitu 1050 g dengan rata-rata 1046.66. Jarak pagar (Jatropha curcas .L) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh kerabatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas (Akbar yakob, 2009). Transpirasi adalah hilangnya air dari daun. Air keluar daun melalui stomata yang merupakan pori-pori kecil yang berada didaun. Kebanyakan daun ditutupi oleh epidermis yang berkutikula yang memiliki restensi (Ketahanan) tinggi untuk terjadinya difusi air. Namun stomata memiliki restensi sangat rendah ketika uap air berdifusi keluar melalui stomata (Lakitan, 2007). Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan ( Gardner, dkk., 1991 ). Kegiatan transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung sebagai pertukan karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh menentukan banyak air jauh lebih banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri kecepatan hilangnya air tergantung sebagian besar pada suhu kelembapan relatif dengan gerakan udara (Ashari, 1995). Pengangkutan garam-garam mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan secepatnya mempengaruhi oleh kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan penguapan, akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya transpirasi terjadi hilangnya molekul sebagian besar adalah lewat daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun dan karena daun-daun itu lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu tanaman (Darmawan dan Barasjah, 1982). Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan tekanan turgor oleh sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga tersebut. Pergerakan air antar sel akan selalu dari sel yang mempunyai potensi air lebih tinggike sel engan potensi lebih rendah. Tinggi rendahnya potensi air sel tergantung pada jumlah bahan yang terlarut dari cairan tesebut, semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi yang terjadi pada sel semakin rendah ( Heddy, 1990 ). Mekanisme pada transpirasi yaitu air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi. Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan potometer. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati (Partigarunggu, 2009). Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis. Lebih dari 20 % air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah. Transpirasi menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xylem (Partigarunggu, 2009). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan mengukur laju transpirasi dengan penimbangan diperoleh kesimpulan sebagai berikut : a. Laju transpirasi tertinggi dengan faktor cahaya terdapat pada 30 menit terakhir yaitu 1030 dengan perlakuan di dalam ruangan. b. Laju transpirasi terendah dengan faktor cahaya terdapat pada 30 menit pertama dan 30 menit terakhir yaitu 1050 yang berada di luar ruangan. c. Dari data diperoleh bahwa laju transpirasi lebih cepat terjadi dengan faktor cahaya yang berada di luar ruangan bila di bandingkan dengan laju transpirasi yang berada di dalam ruangan. d. Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan, terlihat jelas adanya perbedaan berat awal dan berat akhir pada semua perlakuan. 5.2 Saran Alat dan bahan yang di Laboratorium perlu dilengkapi atau diperbaiki. Pada saat melakukan pengamatan mengenai Mengukur Laju Transpirasi Dengan Timbangan, alat (timbangan) tidak dapat berfungsi dengan baik. Sehingga menyebabkan kesalahan pada perhitungan dan hasil pengamatan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stomata secara umum memiliki pengertian sebagai bagian dari daun tempat keluarnya gas dan uap air. Pada kebanyakan tumbuhan , stomata memiliki sel penjaga adalah sel yang membentuk bukaan dari stomata tersebut. Metamorfosis tanaman Rhoeo discolor adalah mempunyai kuncup bunga sebagai bakal bunga yang tumbuh di daerah ketiak daun. Biasa ditanam orang sebagai tanaman hias, tumbuh subur di tanah yang lembab. Tanaman ini termasuk anggota suku gawar-gawaran, berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Tinggi pohon 40 cm - 60 cm, batang kasar, pendek, lurus, tidak bercabang. Daun lebar dan panjang, mudah patah, warna daun di permukaan atas: Hijau, dan di bagian bawah berwarna merah tengguli. Panjang daun + 30 cm, lebar 2,5 - 6 cm. Bunga berwarna putih, berbentuk bunga kerang (Irwan ashari, 2010). Stomata adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berl;ainan dengan epidermis. Proses penguapan dan pernafasan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh stomata (Pawzees, 2009). Pergerakan sel penjaga dipengaruhi oleh banyak faktor rangsangan seperti suhu, kelembapan dan gerakan.Terkadang ditemukan klorofil pada sel penjaga, hal tersebut diperlukan karena kebutuhan energi untuk bergerak harus dipenuhi dalam waktu yang singkat. Terdapat beberapa macam pembagian stomata menurut letak, bentuk sel penjaga, dan bentuk sel tetangga yang akan dijelaskan sebagai berikut, phanerofor yaitu letak stomata sejajar dengan sel epidermis. Mayoritas dari tumbuhan memuliki stomata dengan tipe ini yaitu Adam hawa (Rhoeo discolor). Kriptofor yaitu letak stomata dibawah sel epidermis tumbuhan yang memiliki stomata ini biasanya hidup ditempat kering. Contohnya yaitu Bunga mentega (Nerium oleander) (Pawzees, 2009). Dalam Praktikum ini akan dijelaskan proses pengaruh turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata, sehingga praktikan dapat mengetahui proses tersebut. 1.2 Tujuan dan kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh turgor terhadap mekanisme membuka dan menutupnya stomata. Kegunaannya untuk dapat mengetahui proses perubahan turgor sel penjaga pada tanaman Rhoeo discolor. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Rhoeo discolor Klasifikasi pada tanaman Adam Hawa (Rhoeo discolor) adalah sebagai berikut Kingdom yaitu Plantae (Tumbuhan), Subkingdom yaitu Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh), Super Divisi yaitu Spermatophyta (Menghasilkan biji), Divisi yaitu Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Kelas yaitu Liliopsida (berkeping satu / monokotil), Sub Kelas yaitu Commelinidae, Ordo yaitu Commelinales, Famili yaitu Commelinaceae, Genus yaitu Rhoeo, dan Spesies yaitu Rhoeo discolor (Irwan ashari,2010). Morfologi tanaman rhoeo discolor adalah memiliki habitat semak, tinggi 40-60 cm, batang kasar, pendek, arah tumbuh tegak lurus (erectus), warna coklat, sifat batang basah (herbaceus), berdasarkan panjang umurnya merupakan tumbuhan muda (annuus), bentuk batang bulat (teres), sifat permukaan batang memperlihatkan bekas-bekas daun. Daun tunggal, bangun daun seperti pedang (ensiformis), ujung daun runcing (acutus), pangkal daun rata (truncatus) memeluk batang,tepi daun rata (integer), panjang daun 25-30 cm, lebar 3-6 cm, daging daun tipis lunak (herbaceous), permukaan daun licin suram (laevis opacus), tulang daun sejajar (rectivernis), permukaan atas daun hijau, permukaan bawah daun merah kecoklatan. Bunga majemuk, bentuk mangkok, tumbuh di ketiak daun, terbungkus kelopak seperti kerang, benang sari silindris, bunga banyak, warna putih, kepala putikkuning, mahkota bentuk segitiga, tiga lembar, putih. Akar serabut,kecoklatan (Irwan ashari,2010). Biasa ditanam orang sebagai tanaman hias, tumbuh subur di tanah yang lembab. Termasuk anggota suku gawar-gawaran, berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Tinggi pohon 40 cm - 60 cm, batang kasar, pendek, lurus, tidak bercabang. Daun lebar dan panjang, mudah patah, warna daun di permukaan atas: Hijau, dan di bagian bawah berwarna merah tengguli. Panjang daun + 30 cm, lebar 2,5 - 6 cm. Bunga berwarna putih, berbentuk bunga kerang. Mempunyai kuncup bunga sebagai bakal bunga yang tumbuh di daerah ketiak daun (Irwan ashari,2010). 2.2 Stomata Stomata adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berl;ainan dengan epidermis. Stomata berfungsi untuk sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis, sebagai jalan penguapan (transpirasi), dan sebagai jalan pernafasan (respirasi) (Arifia, 2010). 2.2.1 Mekanisme Membuka dan Menutupnya Stomata Sebagian besar proses transpirasi pada tanaman lewat stomata, stomata bagian terbesar berada pada permukaan bawah daun yang memungkinkan terjadinya pertukaran gas antara yang ada dalam jaringan daun dan di udara. Lubang stomata ini merupakan jalan utama untuk transpirasi, mengingat epidermis bawah dan atas dilapisi oleh lilin sebagai lapisan kutikula yang mengandung bahan lemak dan merupakan penghalang untuk transpirasi (Awal barri, 2009). Membuka dan menutupnya stomata penting bagi proses asimilasi CO2 dan juga keseimbangan air dalam tanaman. Membuka menutupnya stomata tergantung pada perubahan turgor sel penjaga (sel stomata). Turgor yang tinggi menyebabkan stomata membuka sebaliknya turgor yang rendah akan menyebabkan stomata menutup (Awal barri, 2009). Suatu penelitian menunjukkan bahwa turgor sel penjaga berkaitan dengan metabolisme penyerapan ion, terutama K+. Meningkatnya konsentrasi K+ pada sel penjaga, stomata membuka lebih lebar sebaliknya ketika menutup tidak terjadi akumulasi K+ (Awal barri, 2009). Mekanisme membuka menutupnya stomata terutama tergantung pada akumulasi K+ pada sel stomata dan bukan semata-mata oleh adanya hidrolisa amilum menjadi gula sebagaimana dipercaya selama ini, hidrolisa amilum ini hanya faktor sekunder (Awal barri, 2009). Untuk akumulasi K+ ini disediakan sebagian oleh vakuola sel lateral dan sebagian lagi oleh sel epidermis. Akumulasi K+ ini akan berbalik bila stomata menutup, yaitu K+ berakumulasi di sel epidermis. Tidak ada perbedaan electro potential yang menyolok antara setiap sel epidermis dan bagaimanapun keadaan stomata, K+ ditransport secara aktif dan ketika stomata membuka atau menutup memerlukan energy (Awal barri, 2009). 2.2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Membuka dan Menutupnya Stomata. Faktor-faktor yang mempengaruhi membuka dan mentupnya stomata adalah Konsentrasi CO2. Konsentrasi CO2 akan mempengaruhi pH pada sel penutup Perubahan pH akan berpengaruh pada kerja ensim fosforilase dalam mengubah amilum menjadi gula atau sebaliknya. Cahaya apabila ada cahaya (siang) akan terjadi fotosintesis sehingga kadar CO2 dalam daun berkurang, stomata membuka. Kekurangan air (Water stress) Apabila tumbuhan kekurangan air, maka potensial air pada daun termasuk sel penutup akan turun. sehingga stomata akan menutup. Suhu naiknya suhu akan meningkatkan lajunya respirasi sehingga kadar CO2 dalam daun meningkat, pH menurun sehingga stomata menutup. Angin, Bila angin bertiup kencang mengakibatkan transpirasi terjadi berlebihan dibandingkan dengan kemampuan tumbuhan tersebut menyerap air (Zona bawah, 2010). Akibatnya tumbuhan kekurangan air. turgor menurun, stomata menutup. Angin juga disebut faktor penyebab membuka dan menutupnya stomata secara tidak langsung (Zona bawah, 2010). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Pengaruh Turgor Terhadap Membuka Dan Menutupnya Stomata dilakukan pada hari rabu 19 Oktober 2011 mulai 14.00-selesai Wita di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah Mikroskop, gelas objek, gelas penutup, pipet tetes, pinset . Bahan-bahan Larutan sukrosa 10% dan daun Rhoeo discolor yang masih segar. 3.3 Cara Kerja Membuat sayatan epidermis bawah daun Rhoeo discolor dengan silet atau dengan pinset. Meletakkaan pada gelas objek dengan setetes air, selanjutnya menutup gelas objek dengan gelas penutup. Kemudian mikroskop apakahstomata dalam keadaan membuka atau menutup. Sambil mengamati dibawah mikroskop, mengganti reagen air dengan larutan sukrosa 10%, dengan cara meneteskan pada sisi gelas penutup dan menghisapnyadengan kertas saring pada sisi yang lain. Mengamati perubahan yang terjadi, selanjutnya mengganti larutan sukrosa 10% dengan air. Kemudian mengamati lagi perubahan yang terjadi. Dan yang terakhir menggambar anatomi stomata pada preparat tersebut, dan menyebutkan bagian-bagian serta tipe stomata tumbuhan yang di amati. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 3. Persentase stomata terbuka dan tertutup pada daun Rhoeo discolor Media Σ Stomata terbuka Σ Stomata tertutup % Stomata terbuka % Stomata tertutup Air 16 6 72.72 27.27 Sukrosa 10 % 12 2 85.71 14.28 %Stomata=(Σ Stomata terbuka/tertutup)/(Σ jumlah total Stomata)×100 Gambar 1. Anatomi stomata terbuka pada daun Rhoeo discolor yang di amati dibawah mikroskop dengan pembatasan 10x. Gambar 2. Anatomi stomata tertutup pada daun Rhoeo discolor yang di amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x. 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, terlihat jelas adanya perbedaan hasil antara Stomata terbuka dan stomata tertutup dengan menggunakan media air dan media sukrosa 10% pada tanaman Rhoeo discolor. Dimana tanaman Rhoeo discolor yang menggunakan media air memperoleh hasil stomata terbuka 16, stomata tertutup 6, % stomata terbuka 72.72%, dan % stomata tertutup 27.27 %, Sedangkan dengan menggunakan media sukrosa 10% memperoleh hasil stomata terbuka 12, stomata tertutup 2, % stomata terbuka 85.71 % , dan % stomata tertutup 14.28 %. Pergerakan sel penjaga dipengaruhi oleh banyak faktor rangsangan seperti suhu, kelembapan dan gerakan.Terkadang ditemukan klorofil pada sel penjaga, hal tersebut diperlukan karena kebutuhan energi untuk bergerak harus dipenuhi dalam waktu yang singkat. Terdapat beberapa macam pembagian stomata menurut letak, bentuk sel penjaga, dan bentuk sel tetangga yang akan dijelaskan sebagai berikut, phanerofor yaitu letak stomata sejajar dengan sel epidermis. Mayoritas dari tumbuhan memuliki stomata dengan tipe ini yaitu Adam hawa (Rhoeo discolor). Kriptofor yaitu letak stomata dibawah sel epidermis tumbuhan yang memiliki stomata ini biasanya hidup ditempat kering. Contohnya yaitu Bunga mentega (Nerium oleander) (Pawzees, 2009). Membuka dan menutupnya stomata penting bagi proses asimilasi CO2 dan juga keseimbangan air dalam tanaman. Membuka menutupnya stomata tergantung pada perubahan turgor sel penjaga (sel stomata). Turgor yang tinggi menyebabkan stomata membuka sebaliknya turgor yang rendah akan menyebabkan stomata menutup (Awal barri, 2009). Faktor- faktor yang mempengaruhi membuka dan mentupnya stomata adalah Konsentrasi CO2. Konsentrasi CO2 akan mempengaruhi pH pada sel penutup Perubahan pH akan berpengaruh pada kerja ensim fosforilase dalam mengubah amilum menjadi gula atau sebaliknya. Cahaya apabila ada cahaya (siang) akan terjadi fotosintesis sehingga kadar CO2 dalam daun berkurang, stomata membuka. Kekurangan air (Water stress) Apabila tumbuhan kekurangan air, maka potensial air pada daun termasuk sel penutup akan turun. sehingga stomata akan menutup. Suhu naiknya suhu akan meningkatkan lajunya respirasi sehingga kadar CO2 dalam daun meningkat, pH menurun sehingga stomata menutup. Angin, Bila angin bertiup kencang mengakibatkan transpirasi terjadi berlebihan dibandingkan dengan kemampuan tumbuhan tersebut menyerap air (Zona bawah, 2010). Akibatnya tumbuhan kekurangan air. turgor menurun, stomata menutup. Angin juga disebut faktor penyebab membuka dan menutupnya stomata secara tidak langsung (Zona bawah, 2010). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan Pengaruh Tugor Terhadap membuka dan menutupnya stomata, diperoleh kesimpulan : 1. Dengan menggunakan media air diperoleh stomata terbuka 16, stomata tertutup 6, jumlah stomata terbuka (%) 72.72 %, dan jumlah stomata tertutup (%) 27.27 %. 2. Dengan menggunakan media Sukrosa 10% diperoleh hasil stomata terbuka 12, stomata tertutup 2, jumlah stomata terbuka (%) 85.71%, dan jumlah stomata tertutup 14.28 %. 3. Terlihat perbedaan jumlah stomata dengan menggunakan media air dan sukrosa 10 %. 5.2 Saran Diharapkan kepada para praktikan menyiapkan peralatan lengkap agar praktikum dapat berlangsung dengan cepat dan kerjasama antar teman-teman praktikan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Klorofil adalah zat hijau daun yang terdapat pada kloroplas. Klorofil adalah pigmen tumbuhan di dalam proses fotosintesis. Tidak adanya klorofil maka prosesfiksasi CO2 dan proses fotosintesis serta perombakan energy kimia dan energy cahaya tidak dapat berlangsung. Dalam praktikum ini, saya dapat mengetahui adanya kadar klorofil daun dengan pengukuran yang menggunakan Spektrofotometer. Klorofil adalah pigmen permanen yang paling utama dalam tanaman hijau, alga, dan bakteri fotosintetik. Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil. Klorofil berperan melakukan fotosintesa (menyerap dan menggunan energi sinar matahari untuk mensintesa oksigen dan karbohidrat dari CO2 dan air) pada tumbuh-tumbuhan. Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di dalamnya disebut grana (Breanmanurung, 2011). Pada tanaman tinggi ada 2 macam klorofil, yaitu Klorofil a : C55 H72 O5 N4 Mg (berwarna hijau tua) dan Klorofil b : C55 H70 O6 N4 Mg (berwarna hijau muda). Rumus bangunnya berupa satu cincin yang terdiri atas 4 pirol dengan Mg sebagai inti. Rumus bangun ini hamper serupa dengan rumus bangun haemin (zat darah), dimana intinya bukan Mg, melainkan Fe. Pada klorofil terdapat suatu rangkaian yang disebut fitil yang terlepas menjadi fitol C20 H39 OH, jika terkena air (hidrolisis) dan pengaruh enzim klorofilase. Fitol itu lipofil (suka akan lemak), sedang sisanya disebut rangka porfin, sifatnya hidrofil (Breanmanurung, 2011). Jenis-jenis spektrofotometer adalah spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer infra merah, spektrofotometer serapan atom (SSA), spektrofotometer resonansi magnetik (NMR), spektrofotometer pendar molekular (pendar fluor/pendar fosfor), dan spektrofotometer dengan metode hamburan cahaya seperti nefelometer, turbidimeter, dan spektrofotometer Raman (Panjicm, 2010). Spektrofotometer dapat diterapkan dalam berbagai bidang seperti penelitian untuk analisis bahan, penelitian analisis mikroba, penelitian bilangan transport suatu logam, kedokteran, dan lain-lain. Selain itu, konsep spektrofotometer dapat diterapkan pula dalam berbagai hukum seperti Hukum Lambert-Beer (Panjicm, 2010). Faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil adalah Faktor pembawaan (Gen), yang Jika gen ini tidak ada maka tanaman albino. Cahaya adalah tanaman yang berada pada tempat gelap akan tampak pucat terlalu banyak sinar berpengaruh buruk pada klorofil. c. Oksigen adalah jika Kecambah yang ditumbuhkan pada tempat gelap kemudian dibawa ke tempat yang bercahaya tak bisa membentuk klorofil, jika tidak diberikan oksigen. Karbohidrat, (dalam bentuk gula) Pada daun yang etiolasi apabila ditambahkan gula akan menghasilkan klorofil Nitrogen, Magnesium, Besi Merupakan bahan kimia (keharusan), kerusakan zat tersebut (klorosis). Mn, Cu, Zn diperlukan dalam jumlah kecil (mikro) tetapi harus ada bila kekurangan akan klorosis (ilham, 2008). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kadar klorofil daun dengan pengukuran menggunakan Spektrofotometer. Kegunaannya adalah agar praktikan dapat mengetahui cara penggunaan spektrofotometer yang dapat mengukur kadar klorofil pada daun. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klorofil Klorofil adalah pigmen tumbuhan yang esensial dalam proses fotosintesis. Tanpa klorofil proses fiksasi CO2 dan proses fotosintesis serta perombakan energi kimia dan energi cahaya tidak dapat berlangsung. Saat ini dikenal beberapa jenis klorofil, yaitu klorofil a dan klorofil b yang dominan pada tumbuhan tingkat tinggi (Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan, 2009). Klorofil adalah pigmen pemanen yang paling utama dalam tanaman hijau, alga, dan bakteri fotosintetik. Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil. Klorofil berperan melakukan fotosintesa (menyerap dan menggunan energi sinar matahari untuk mensintesa oksigen dan karbohidrat dari CO2 dan air) pada tumbuh-tumbuhan. Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di dalamnya disebut grana (Breanmanurung, 2011). Pada tanaman tinggi ada 2 macam klorofil, yaitu Klorofil a adalah C55 H72 O5 N4 Mg (berwarna hijau tua) dan Klorofil b adalah C55 H70 O6 N4 Mg (berwarna hijau muda). Rumus bangunnya berupa satu cincin yang terdiri atas 4 pirol dengan Mg sebagai inti. Rumus bangun ini hamper serupa dengan rumus bangun haemin (zat darah), dimana intinya bukan Mg, melainkan Fe (Breanmanurung, 2011). Pada klorofil terdapat suatu rangkaian yang disebut fitil yang terlepas menjadi fitol C20 H39 OH, jika terkena air (hidrolisis) dan pengaruh enzim klorofilase. Fitol itu lipofil (suka akan lemak), sedang sisanya disebut rangka porfin, sifatnya hidrofil (suka akan air) (Breanmanurung, 2011). Klorofil itu fluoresen, artinya dapat menerima sinar dan mengembalikannya dalam gelombang yang berlainan. Klorofil-a tampak hijau tua, tetapi jika sinar direfleksikan, tampaknya lalu merah darah. Klorofil-b berwarna hijau cerah tampak merah coklat pada fluoresensi. Klorofil banyak meresap sinar merah dan nila (Breanmanurung, 2011). Perbedaan keduanya terletak pada atom C no. 3 dimana metil pada klorofil a diganti dengan aldehida pada klorofil b. Pada hakikatnya klorofil merupakan senyawa yang tidak stabil sehingga sulit untuk menjaga agar molekulnya tetap utuh dengan warna hijau yang menarik. Beberapa peneliti berpendapat bahwa dalam peranannya klorofil pecah dan kloroplas keluar. Klorofil dalam daun masih berikatan dengan protein ketika proses pemanasan, protein terdenaturasi dan klorofil lepas. Sehingga warna klorofil menjadi coklat atau pudar (Breanmanurung, 2011). 2.2 Spektrofotometer Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi. Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran panjang absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu (Panjicm, 2010). Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca (Panjicm, 2010). Prinsip kerja spektrofotometer mula-mula zat yang akan diukur diidentifikasi, berupa atom atau molekul. Radiasi dari sumber infra merah dipecah oleh pencacah sinar menjadi dua bagian yang sama dengan arah yang saling tegak lurus. Setelah itu, kedua radiasi tersebut dipantulkan kembali ke dua cermin sehingga bertemu kembali di pencacah sinar untuk berinteraksi. Sebagian sinar diarahkan ke sampel lalu ke detektor sedangkan sebagian lagi dibalikkan ke sumber gerak. Maju mundur cermin akan menyebabkan sinar yang menuju detektor berfluktuasi tetapi terkendali . Informasi zat yang ditransmisikan ke fotodetektor yang bertindak sebagai transduser yang merubah besaran tersebut menjadi besaran listrik agar mudah diidentifikasi (Panjicm, 2010). Jenis-jenis spektrofotometer adalah spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer infra merah, spektrofotometer serapan atom (SSA), spektrofotometer resonansi magnetik (NMR), spektrofotometer pendar molekular (pendar fluor/pendar fosfor), dan spektrofotometer dengan metode hamburan cahaya seperti nefelometer, turbidimeter, dan spektrofotometer Raman (Panjicm, 2010). Spektrofotometer dapat diterapkan dalam berbagai bidang seperti penelitian untuk analisis bahan, penelitian analisis mikroba, penelitian bilangan transport suatu logam, kedokteran, dan lain-lain. Selain itu, konsep spektrofotometer dapat diterapkan pula dalam berbagai hukum seperti Hukum Lambert-Beer (Panjicm, 2010). 2.3 Proses Terbentuknya Klorofil Pembentukan klorofil seperti halnya pembembentukan pigmen-pigmen lain seperti hewan dan manusia yang di bawakan oleh suatu gen tertentu di dalam kromosom. Jika gen ini tidak ada maka tanaman akan tampak putih belaka (albino), seperti tanaman jagung yang albino tidak dapat hidup lama (Breanmanurung, 2011). Pada beberapa kecambah tanaman Angiosperma, klorofil dapat terbentuk tanpa memerlukan cahaya. Tanaman lain yang ditumbuhkan di dalam gelap tidak berhasil membentuk klorofil, mereka pucat (klorosis) kekuning-kuningan, disebabkan karena adanya protoklorofil yang mirip dengan klorofil-a, yang mengandung kurang 2 atom H. terlalu banyak sinar berpengaruh buruk kepada kepada klorofil. Larutan klorofil yang dihadapkan kepada sinar kuat tampak berkurang hijaunya. Hal ini juga dapat kita lihat pada daun-daun yang terus-menerus kena sinar langsung, warna mereka menjadi hijau kekuning-kuningan (Breanmanurung, 2011). Terutama dalam bentuk gula ternyata membantu pembentukan korofil dalam daun-daun yang mengalami tumbuh etiolasi. Dengan tanpa pemberian gula, daun-daun tersebut tidak mampu menghasilkan klorofil (breanmanurung, 2011). Kecambah yang ditumbuhkan di dalam gelap, kemudian ditempatkan di cahaya tak mampu membentuk klorofil, jika tidak diberi oksigen. Besi yang menjadi pembentuk bahan klorofil sudah tentu merupakan suatu keharusan. Kekurangan akan salah satu dari zat-zat tersebut mengakibatkan klorosis pada tumbuhan (Breanmanurung, 2011). Meskipun jumlahnya hanya sedikit dalam pembentukan klorofil, jika tiada unsur-unsur tersebut maka tanaman mengalami klorosis juga. Temperatur. 30 – 480 C merupakan suatu kondisi yang baik untuk pembentukan klorofil pada kebanyakan tanaman, akan tetapi yang paling baik ialah antara 260 – 300 C. Kecuali klorofil-a dan klorofil-b, kita kenal juga klorofil-c yang terdapat pada diatom dan ganggang-pirang. Klorofil-d terdapat pada ganggang-merah. Sedang bakteri-ungu mempunyai bakterioklorofil dan bakteri-hijau mempunyai bakterioviridin. Jenis-jenis klorofil yang tersebut di atas itu hampir serupa susunan kimianya, semuanya mengandung Magnesium. Kekurangan air mengakibatkan desintegrasi dari klorofil seperti terjadi pada rumput dan pohon-pohonan di musim kering (Breanmanurung, 2011). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut dengan menentukan kadar klorofil a dan b digunakan rumus : Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × OD 665 ˗ 5.76 × OD 649 Klorofil b (gr/ml) = 25.8 × OD 649 ˗ 7.6 × OD 665 4.1.1 Daun Kakao (Theobroma cacao .L) - Daun kakao muda Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 0.794 665 ˗ 5.76 × 0.687 649 = 10.8774 ˗ 3. 95712 = 6.92028 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×0.687 649 ˗ 7.6 × 0.794 665 = 17.7246 ˗ 6.0344 = 11.6902 gr/ml - Daun kakao tua Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 0.572 665 ˗ 5.76 × 0.563 649 = 7.8364 ˗ 3. 24288 = 4.59352 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×0.563 649 ˗ 7.6 × 0.572 665 = 14.5254 ˗ 4.3472 = 10.1782 gr/ml 4.1.2 Daun Jagung (Zea mays .L) - Daun jagung muda Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 1.223 665 ˗ 5.76 × 1.010 649 = 16.7551 ˗ 5.8176 = 10.9375 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×1.010 649 ˗ 7.6 × 1.223 665 = 26.058 ˗ 9.2948 = 16.7632 gr/ml - Daun jagung tua Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 1.384 665 ˗ 5.76 × 1.128 649 = 18.9604 ˗ 6.49728 = 12.46312 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×1.128 649 ˗ 7.6 × 1.384 665 = 29.1024 ˗ 10.5184 = 18.584 gr/ml 4.1.3 Daun Nenas (Ananas comosus merr) - Daun nenas muda Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 1.311 665 ˗ 5.76 × 0.687 649 = 17.9607 ˗ 3.95712 = 14.00358 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×0.687 649 ˗ 7.6 × 1.311 665 = 17.7246 ˗ 9.9636 = 7.761 gr/ml - Daun nenas tua Klorofil a (gr/ml) = 13.7 × 1.525 665 ˗ 5.76 × 1.745 649 = 20.8925 ˗ 10.0512 = 10.8413 gr/ml Klorofil b (gr/ml) = 25.8 ×1.745 649 ˗ 7.6 × 1.525 665 = 45.021 ˗ 11.59 = 33.431 gr/ml 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan Pada daun kakao muda diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 0.796 dan OD 649 = 0.687 adalah 3.95712 gr/ml dan Klorofil b dengan OD 665 = 0.796 dan OD 649 = 0.687 adalah 11.6902 gr/ml. Pada daun kakao tua diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 0.572 dan OD 649 = 0.563 adalah 4.59352 gr/ml dan Klorofil b dengan OD 665 = 0.572 dan OD 649 = 0.563 adalah 10.1782 gr/ml. Pada daun jagung muda diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 1.223 dan OD 649 = 1.010 adalah 10.9375 gr/ml dan klorofil b dengan OD 665 = 1.223 dan OD 649 = 1.010 adalah 16.7632 gr/ml. Pada jagung tua diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 1.384 dan OD 649 = 1.128 adalah 12.46312 gr/ml dan klorofil b dengan OD 665 = 1.384 dan OD 649 = 1.128 adalah 18.584 gr/ml. Pada daun nenas muda diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 1.311 dan OD 649 = 1.339 adalah 14.00358 gr/ml dan klorofil b dengan OD 665 = 1.311 dan OD 649 = 1.339 adalah 7.761 gr//ml. Pada daun nenas tua diperoleh hasil klorofil a dengan OD 665 = 1.525 dan OD 649 = 1.745 adalah 10.8413 gr/ml dan klorofil b dengan OD 665 = 1.525 dan OD 649 = 1.745 adalah 33.431 gr/ml. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa semakin tinggi kadar klorofil, maka akan semakin tinggi pula laju fotosintesis, karena klorofil merupakan pigmen tumbuhan yang terdapat didalam kloroplas. Klorofil adalah pigmen yang menyerap cahaya biru dan kuning, sambil memantulkan cahaya hijau. Karena keberadaannya yang begitu melimpah di dalam tubuh tumbuhan, seperti pada daun dan batang yang masih muda, maka tumbuhan menjadi tampak hijau. Pigmen klorofil sangat penting peranannya dalam kehidupan tumbuhan. Klorofil berfungsi sebagai zat yang dapat menangkap energi cahaya (dari matahari) untuk digunakan pada proses fotosintesis (proses pembuatan zat makanan dari bahan anorganik: air dan gas karbondioksida). Zat makanan organik hasil fotosintesis ini digunakan tumbuhan untuk sumber energi dalam kehidupannya (Ripiu, 2009). Klorofil adalah pigmen permanen yang paling utama dalam tanaman hijau, alga, dan bakteri fotosintetik. Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil. Klorofil berperan melakukan fotosintesa (menyerap dan menggunan energi sinar matahari untuk mensintesa oksigen dan karbohidrat dari CO2 dan air) pada tumbuh-tumbuhan. Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di dalamnya disebut grana (Breanmanurung, 2011). Klorofil itu fluoresen, artinya dapat menerima sinar dan mengembalikannya dalam gelombang yang berlainan. Klorofil-a tampak hijau tua, tetapi jika sinar direfleksikan, tampaknya lalu merah darah. Klorofil-b berwarna hijau cerah tampak merah coklat pada fluoresensi. Klorofil banyak meresap sinar merah dan nila (Breanmanurung, 2011). Pada tanaman tinggi ada 2 macam klorofil, yaitu Klorofil a C55 H72 O5 N4 Mg (berwarna hijau tua) dan Klorofil b C55 H70 O6 N4 Mg (berwarna hijau muda). Rumus bangunnya berupa satu cincin yang terdiri atas 4 pirol dengan Mg sebagai inti. Rumus bangun ini hamper serupa dengan rumus bangun haemin (zat darah), dimana intinya bukan Mg, melainkan Fe. Pada klorofil terdapat suatu rangkaian yang disebut fitil yang terlepas menjadi fitol C20 H39 OH, jika terkena air (hidrolisis) dan pengaruh enzim klorofilase. Fitol itu lipofil (suka akan lemak), sedang sisanya disebut rangka porfin, sifatnya hidrofil (Breanmanurung, 2011). Klorofil a adalah warna hijau tua (hijau biru) Klorofil-b , warna hijau muda (hijau kekuningan) Klorofil-c , warna hijau coklat pada Diatome, Ganggang perang, Klorofil-d , warna hijau merah pada ganggang merah (Ilham, 2009). Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi. Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran panjang absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu (Panjicm, 2010). Jenis-jenis spektrofotometer adalah spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer infra merah, spektrofotometer serapan atom (SSA), spektrofotometer resonansi magnetik (NMR), spektrofotometer pendar molekular (pendar fluor/pendar fosfor), dan spektrofotometer dengan metode hamburan cahaya seperti nefelometer, turbidimeter, dan spektrofotometer Raman (Panjicm, 2010). Pembentukan klorofil seperti halnya pembembentukan pigmen-pigmen lain seperti hewan dan manusia yang di bawakan oleh suatu gen tertentu di dalam kromosom. Jika gen ini tidak ada maka tanaman akan tampak putih belaka (albino), seperti tanaman jagung yang albino tidak dapat hidup lama (Breanmanurung, 2011). Terutama dalam bentuk gula ternyata membantu pembentukan korofil dalam daun-daun yang mengalami tumbuh etiolasi. Dengan tanpa pemberian gula, daun-daun tersebut tidak mampu menghasilkan klorofil (Breanmanurung, 2011). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan tentang Mengukur Kadar Klorofil Dengan Spektrofotometer, dipeoleh kesimpulan sebagai berikut : a. Konsentrasi klorofil pada daun muda dan daun tua atau daun yang menjadi warna kuning terdapat perbedaan. b. Klorofil berfungsi untuk menguatkan cahaya matahari pada makanan tumbuhan yang dikenal dengan proses fotosintesis. c. Dari hasil pembahasan dapat dilihat bahwa semakin tinggi kadar klorofil, maka akan semakin tinggi pula laju fotosintesis. 5.2 Saran Manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan, diharapkan kersamanya sesama praktikan, agar hasil praktikum bisa memuaskan seperti yang kita harapkan bersama. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pigmen adalah suatu zat yang mengubah warna cahaya yang dipantulkannya, sebagai hasil dari absorpsi (penyerapan) terhadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Dalam praktikum ini, saya dapat mengetahui adanya jenis-jenis pigmen pada suatu daun tumbuhan. Pigmen merupakan molekul khusus yang dapat Memunculkan warna. Pigmen mampu menyerap cahaya matahari dengan menyerap dan memantulkannya pada panjang gelombang tertentu. Molekul pigmen yang berbeda akan memantulkan warna tertentu pada panjang gelombang tertentu sehingga menyebabkan reaksi kimia yang berbeda. Pigmen atau zat warna ini merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki warna pada bahan pangan (Breanmanurung, 2011). Penambahan pewarnan pada pangan dimaksudkan untuk memperbaiki warna pangan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada pangan yang tidak berwarna, agar ter lihat lebih menarik. Zat warna dapat diperoleh secara alami dan secara sintetik (Breanmanurung, 2011). Zat warna alami dapat diperoleh dari tanaman atau hewan dan warna alami inimeliputi pigmen yang terdapadalam bahan atau terbentuk padaproses pemanasan, penyimpananatau pemrosesan. Aman dan tak berefek Samping jika dikonsumsi, seperti klorofil,karetenoid, antosianin,antoxantin, brazilein,tanin dan lain-lain.sedangkan Zat warna sintetik, merupakan zat warna yang dapat diperoleh dari bahan kimia. Seperti Biru berlian, Eritrosin (Breanmanurung, 2011). Pigmen, sejak zaman dahulu,telah digunakan sebagai zat pewarna alami dalam makanan,obat-obatan, dan kosmetika. Zat pewarna alami kini telah banyak digantikan dengan pewarna buatan yang memberikan lebih banyak kisaran warna yang telah dibakukan. Hal ini karena zat pewarna alami kurang stabil dan mudah mengalami perubahan baik fisik maupun kimiawi. Stabilitas warna dari zat pewarna dipengaruhi oleh cahaya, pH,oksidator, reduktor, dan surfaktan (Breanmanurung, 2011). Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu Chloros artinya hijau dan phyllos artinya daun. Ini diperkenalkan tahun 1818, dimana pigmen tersebut diekstrak dari tumbuhan dengan menggunakan pelarut organik. Hans Fischer peneliti klorofil yang memperoleh nobel prize winner pada tahun 1915 berasal dari technishe hochschule, munich germany (Ripiu, 2009). Klorofil adalah pigmen pemanen yang paling utama dalam tanaman hijau, alga, dan bakteri fotosintetik. Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil. Klorofil berperan melakukan fotosintesa (menyerap dan menggunan energi sinar matahari untuk mensintesa oksigen dan karbohidrat dari CO2 dan air) pada tumbuh-tumbuhan. Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di dalamnya disebut grana (Breanmanurung, 2011). Pada tanaman tinggi ada 2 macam klorofil, yaitu Klorofil a adalah C55 H72 O5 N4 Mg (berwarna hijau tua) dan Klorofil b adalah C55 H70 O6 N4 Mg (berwarna hijau muda). Rumus bangunnya berupa satu cincin yang terdiri atas 4 pirol dengan Mg sebagai inti. Rumus bangun ini hamper serupa dengan rumus bangun haemin (zat darah), dimana intinya bukan Mg, melainkan Fe. Pada klorofil terdapat suatu rangkaian yang disebut fitil yang terlepas menjadi fitol C20 H39 OH, jika terkena air (hidrolisis) dan pengaruh enzim klorofilase. Fitol itu lipofil (suka akan lemak), sedang sisanya disebut rangka porfin, sifatnya hidrofil (suka akan air) (Breanmanurung, 2011). Klorofil itu fluoresen, artinya dapat menerima sinar dan mengembalikannya dalam gelombang yang berlainan. Klorofil-a tampak hijau tua, tetapi jika sinar direfleksikan, tampaknya lalu merah darah. Klorofil-b berwarna hijau cerah tampak merah coklat pada fluoresensi. Klorofil banyak meresap sinar merah dan nila. Perbedaan keduanya terletak pada atom C no. 3 dimana metil pada klorofil a diganti dengan aldehida pada klorofil b. Pada hakikatnya klorofil merupakan senyawa yang tidak stabil sehingga sulit untuk menjaga agar molekulnya tetap utuh dengan warna hijau yang menarik (breanmanurung, 2011). Beberapa peneliti berpendapat bahwa dalam peranannya klorofil pecah dan kloroplas keluar. Klorofil dalam daun masih berikatan dengan protein ketika proses pemanasan, protein terdenaturasi dan klorofil lepas. Sehingga warna klorofil menjadi coklat atau pudar (breanmanurung, 2011). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mendeteksi jenis-jenis pigmen pada suatu daun tumbuhan. Kegunaannya adalah agar praktikum dapat mengetahui adanya jenis-jenis pigmen pada daun. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pigmen Tumbuhan Tumbuhan dikatakan berwarna karena mengandung pigmen. Pigmen yang dimiliki tumbuhan menunjukan warna yang berbeda-beda karena perbedaan kemampuannya dalam menyerap dan menentukan cahaya (Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan, 2009) Pigmen adalah suatu zat yang mengubah warna cahaya yang dipantulkannya, sebagai hasil dari absorpsi (penyerapan) terhadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Sebenarnya pigmen bisa terdapat pada benda tak hidup juga bisa terdapat dalam tubuh makhluk hidup. Di alam, ternyata beberapa zat mampu secara selektif menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Nah, di dalam tubuh (bagian tubuh) yaitu di dalam sel-selnya, makhluk hidup yang mempunyai warna tertentu itu terkandung zat tertentu yang disebut sebagai pigmen (Ripiu, 2009). Pada tumbuhan terdapat pula berbagai macam pigmen seperti antosianin. Antosianin adalah pigmen yang kalau kita tinjau dari kata-kata penyusunnya (antho adalah bunga dan cyanin adalah biru) berarti bunga yang berwarna biru. Pigmen antosianin sebenarnya sangat dipengaruhi oleh derajat keasaman (pH). Pada beberapa jenis tumbuhan tingkat tinggi, pigmen ini muncul seringkali pada bagian mahkota bunga. Pada tumbuhan yang hidup ditempat asam, seringkali keberadaannya membuat mahkota bunga menjadi berwarna merah. Sedangkan pada tumbuhan yang hidup pada tempat yang bersifat basa, keberadaan pigmen ini dapat memunculkan warna biru atau ungu pada mahkota bunga. Pada daun-daun tanaman tertentu, mereka menyebabkan munculnya warna keunguan pada bagian bawah daun yang punya habitat di tempat teduh. Pada tumbuhan seperti ini mereka berperan memaksimalkan penangkapan energi cahaya matahari yang tersedia dan membantu fungsi klorofil (Ripiu, 2009). karotenoid adalah suatu pigmen pada tumbuhan yang memunculkan warna merah, jingga, oranye, atau kuning. Fungsi karotenoid pada tumbuhan adalah sebagai pelengkap pigmen klorofil untuk membantu proses fotosintesis. Ada beberapa macam karotenoid, misalnya karoten (warna jingga) yang dapat kita jumpai pada wortel, lutein (warna kuning) pada buah dan sayur, serta likopen (warna merah) yang terdapat di dalam tomat (Ripiu, 2009). Klorofil adalah pigmen utama (paling banyak) yang dapat kita temukan pada tumbuhan. Klorofil adalah pigmen yang menyerap cahaya biru dan kuning, sambil memantulkan cahaya hijau. Karena keberadaannya yang begitu melimpah di dalam tubuh tumbuhan, seperti pada daun dan batang yang masih muda, maka tumbuhan menjadi tampak hijau. Pigmen klorofil sangat penting peranannya dalam kehidupan tumbuhan. Klorofil berfungsi sebagai zat yang dapat menangkap energi cahaya (dari matahari) untuk digunakan pada proses fotosintesis (proses pembuatan zat makanan dari bahan anorganik: air dan gas karbondioksida). Zat makanan organik hasil fotosintesis ini digunakan tumbuhan untuk sumber energi dalam kehidupannya (Ripiu, 2009). 2.2 Klorofil a dan klorofil b Klorofil adalah pigmen pemberi warna hijau pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Senyawa ini yang berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah tenaga cahaya menjadi tenaga kimia (cindyharyono, 2008). Dalam proses fotosintesis, terdapat 3 fungsi utama dari klorofil yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan. Dan karbohidrat yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya (Cindyharyono, 2008). Klorofil menyerap cahaya berupa radiasi elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Misalnya, cahaya matahari mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet, tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidak diserap dengan baik secara merata oleh klorofil. Klorofil dapat menampung energi cahaya yang diserap oleh pigmen cahaya atau pigmen lainnya melalui fotosintesis, sehingga klorofil disebut sebagai pigmen pusat reaksi fotosintesis. Dalam proses fotosintesis tumbuhan hanya dapat memanfaatkan sinar dengan panjang gelombang antara 400-700 nm (Cindyharyono, 2008). Pada tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu klorofil a (C55H72O5N4Mg) yang berwarna hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda. Klorofil a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm) Sedangkan cahaya berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid (Cindyharyono, 2008). Karotenoid ternyata berperan membantu mengabsorpsi cahaya sehingga spektrum matahari dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi yang diserap karotenoid diteruskan kepada klorofil a untuk diserap digunakan dalam proses fotosintesis, demikian pula dengan klorofil b (Cindyharyono, 2008). Klorofil adalah kelompok pigmen fotosintesis yang terdapat dalam tumbuhan, menyerap cahaya merah, biru dan ungu, serta merefleksikan cahaya hijau yang menyebabkan tumbuhan memperoleh ciri warnanya. Terdapat dalam kloroplas dan memanfaatkan cahaya yang diserap sebagai energi untuk reaksi-reaksi cahaya dalam proses fotosintesis (Cindyharyono, 2008). Klorofil A merupakan salah satu bentuk klorofil yang terdapat pada semua tumbuhan autotrof. Klorofil B terdapat pada ganggang hijau chlorophyta dan tumbuhan darat. Klorofil C terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta diatome Bacillariophyta. Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhadophyta. Akibat adanya klorofil, tumbuhan dapat menyusun makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari (Cindyharyono, 2008). Rumus kimia adalah klorofil a C55 H72 O5 N4 Mgdan klorofil b C55H70O6N4 Mg. Gugus pengikat adalah Klorofil a CH3 Klorofil b CH. Cahaya yang diserap adalah Klorofil a menyerap cahaya biru-violet dan merah. Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya kuning-hijau. Absorpsi maksimum adalah Klorofil a pada λ 673 nm dan Klorofil b pada λ 455-640 nm. Klorofil a paling banyak terdapat pada Fotosistem II dan Klorofil b paling banyak terdapat pada Fotosistem I (Cindyharyono, 2008). Cahaya matahari terdiri dari banyak cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda. Gelombang cahaya tampak yang terpendek adalah cahaya ungu, dan yang terpanjang adalah cahaya merah (Istamar syamsuri, 2006). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Pemisahan Pigmen Fotosintesis Dengan Kromatografi Kertas dilakukan pada hari rabu 02 November 2011 mulai 14.00-selesai Wita di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah mortal dan pastel, cawan petri, labu ukur 100 ml, kertas saring ukuran 3×15 cm, jepitan kertas, dan sentrifuge. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun coklat, daun jagung, daun nenas, dan alkohol 70%. 3.3 Cara Kerja Mengambil 1 gr daun, kemudian mengekstrakan dengan 25 ml alcohol 70% sampai seluruh klorofil terlarut. Mengendapkan ampasnya dengan menggunakan sentrifugasi atau mendiamkan beberapa saat. Menuangkan cairan ekstrak kedalam cawan petri. Lalu mengambil kertas saring dan memegang dengan penjepit. Mencelupkan bagian ujung yang lain kedalam ekstrak klorofil pada cawan petri. Membiarkan kertas saring tergantung untuk beberapa lama,hingga terlihat pemisahan pigmen yang ada pada daun sampel. Memperhatikan pigmen yang diperoleh pada kertas saring tersebut, paling tidak terdapat 3 pigmen. Klorofil a berwarna hijau , klorofil b berwarna hijau-biru, dan karotenoid berwarna kuning sampai jingga. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 7. Jenis pigmen yang terkandung dalam kromatografi kertas No Jenis daun tanaman Pigmen yang tampak Jenis pigmen yang terkandung 1 Jagung muda Hijau tua Klorofil a 2 Nenas muda Kuning muda carotenoid 3 Kakao muda Hijau muda Klorofil b 4 Kakao tua Kuning jingga carotenoid 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil pada daun jagung muda pigmen yang tampak adalah hijau tua dan jenis pigmen yang terkandung adalah klorofil a, pada daun nenas muda pigmen yang tampak adalah kuning muda dan jenis pigmen yang terkandung adalah carotenoid, pada daun coklat muda pigmen yang tampak adalah hijau muda dan jenis pigmen yang terkandung adalah klorofil b, dan pada daun coklat tua pigmen yang tampak adalah kuning jingga dan jenis pigmen yang terkandung adalah carotenoid. Daun-daun tumbuhan tersebut menghasilkan warna karena mengandung pigmen. Seperti yang terlihat pada tabel diatas ada 3 jenis pigmen yang terlihat yaitu klorofil a, klorofil b dan carotenoid. Hal ini dikarenakan bahwa klorofil mengandung pigmen-pigmen dan klorofil juga melakukan fotosinteta. Cahaya matahari terdiri dari banyak cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda. Gelombang cahaya tampak yang terpendek adalah cahaya ungu, dan yang terpanjang adalah cahaya merah (Istamar syamsuri, 2006). Pigmen adalah suatu zat yang mengubah warna cahaya yang dipantulkannya, sebagai hasil dari absorpsi (penyerapan) terhadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Sebenarnya pigmen bisa terdapat pada benda tak hidup juga bisa terdapat dalam tubuh makhluk hidup. Di alam, ternyata beberapa zat mampu secara selektif menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Nah, di dalam tubuh (bagian tubuh) yaitu di dalam sel-selnya, makhluk hidup yang mempunyai warna tertentu itu terkandung zat tertentu yang disebut sebagai pigmen (Ripiu, 2009). Karotenoid adalah suatu pigmen pada tumbuhan yang memunculkan warna merah, jingga, oranye, atau kuning. Fungsi karotenoid pada tumbuhan adalah sebagai pelengkap pigmen klorofil untuk membantu proses fotosintesis. Ada beberapa macam karotenoid, misalnya karoten (warna jingga) yang dapat kita jumpai pada wortel, lutein (warna kuning) pada buah dan sayur, serta likopen (warna merah) yang terdapat di dalam tomat (Ripiu, 2009). Klorofil adalah pigmen pemberi warna hijau pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Senyawa ini yang berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah tenaga cahaya menjadi tenaga kimia (Cindyharyono, 2008). Dalam proses fotosintesis, terdapat 3 fungsi utama dari klorofil yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan. Dan karbohidrat yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya (Cindyharyono, 2008). Pada tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu klorofil a (C55H72O5N4Mg) yang berwarna hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda. Klorofil a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm) Sedangkan cahaya berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid (Cindyharyono, 2008). Karotenoid ternyata berperan membantu mengabsorpsi cahaya sehingga spektrum matahari dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi yang diserap karotenoid diteruskan kepada klorofil-a untuk diserap digunakan dalam proses fotosintesis, demikian pula dengan klorofil-b (Cindyharyono, 2008). Klorofil A merupakan salah satu bentuk klorofil yang terdapat pada semua tumbuhan autotrof. Klorofil B terdapat pada ganggang hijau chlorophyta dan tumbuhan darat. Klorofil C terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta diatome Bacillariophyta. Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhadophyta. Akibat adanya klorofil, tumbuhan dapat menyusun makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari (Cindyharyono, 2008). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Pada daun jagung muda pigmen yang tampak adalah hijau tua dan jenis pigmen yang terkandung adalah klorofil a, pada daun nenas muda pigmen yang tampak adalah kuning muda dan jenis pigmen yang terkandung adalah carotenoid, pada daun coklat muda pigmen yang tampak adalah hijau muda dan jenis pigmen yang terkandung adalah klorofil b, dan pada daun coklat tua pigmen yang tampak adalah kuning jingga dan jenis pigmen yang terkandung adalah carotenoid. Daun-daun tumbuhan tersebut menghasilkan warna karena mengandung pigmen. 2. Pigmen adalah suatu zat yang mengubah warna cahaya yang dipantulkannya, sebagai hasil dari absorpsi (penyerapan) terhadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. 3. Karotenoid adalah suatu pigmen pada tumbuhan yang memunculkan warna merah, jingga, oranye, atau kuning. Fungsi karotenoid pada tumbuhan adalah sebagai pelengkap pigmen klorofil untuk membantu proses fotosintesis. 5.2 Saran Praktikum mengenai Pemisahan Pigmen Fotosintetik Dengan Kromatografi Kertas merupakan praktikum terakhir, saya harapkan untuk praktikum kedepan bias lebih baik dari sekarang. Terima kasih. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Kacang hijau (Phaseolus radiates.L) merupakan salah satu tanaman Leguminosae yang cukup penting di Indonesia. posisinya menduduki tempat ketiga setelah kedelai dan kacang tanah. Sampai saat ini perhatian masyarakat terhadap kacang hijau masih kurang. Kurangnya perhatian ini diantaranya disebabkan oleh hasil yang dicapai per hektarnya masih rendah. Di samping itu, panen kacang hijau ini harus dikerjakan beberapa kali (Soeprapto S,H., 1993). Peningkatan produksi kacang hijau dilakukan dengan cara memperbaiki kultur teknis petani, mendapatkan varietas-varietas yang produksinya tinggi dan masak serempak, serta peningkatan usaha pasaca panen (Soeprapto S,H., 1993). Dari segi agronomis dapat dilakukan dengan tindakan pemupukan NPK dan pengaturan jumlah populasi, jarak tanam, sanitasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman (Soeprapto S,H., 1993). Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia (Indah ayu, 2003) Imbibisi juga dapat didefinisikan sebagai peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat hidrofilik seperti protein, pati, selulosa dll. Yang menyebabkan zat-zat tersebutdapat mengembang setelah menyerap air disebut potensial matriks atau potensial imbibisi. Banyaknya air yang dapat di imbibisi sangat tergantung pada potensial air yang juga tergantung konsentrasi zat terlarut (Penuntun praktikum fistum, 2009). Dalam sel tumbuhan, imbibisi diartikan kemampuan dinding sel dan plasma sel untuk menyerap air dari luar sel. Contoh: penyerapan air oleh benih Proses awal perkecambahan, benih akan membesar, kulit benih pecah, dan berkecambah (Aiini, 2009). Pada praktikum ini akan dijelaskan Pengamatan tentang Perubahan berat biji Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang dilarutkan selama 48 jam sehingga Praktikan dapat mengetahui imbibisi pada biji Kacang hijau (Phaseolus radiates .L). 1.2 Tujuan dan kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pada larutan terhadap proses imbibisi pada biji. Kegunaannya adalah Praktikan dapat mengetahui imbibisi pada biji Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L). II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Bii Kacang Hijau (Phaseolus radiatus .L) Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram (Soeprapto S,H., 1993). Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah (Plantamor, 2009). Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini. Divisi adalah Spermatophyta, Sub-divisi adalah Angiospermae, Kelas adalah Dicotyledoneae, Ordo adalah Rosales, Famili adalah Papilionaceae, Genus adalah Vigna, dan Spesies adalah Vigna radiata atau Phaseolus radiatus (Soeprapto S,H., 1993). Morfologi Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus.L) adalah tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu (Soeprapto S,H., 1993). Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua(Soeprapto S,H., 1993). Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri. Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji (Soeprapto S,H., 1993). Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan (Soeprapto S,H., 1993). 2.2 Zat-zat Hidrofilik Zat-zat Hidrofilik adalah Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam mineral). Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut (Indah ayu, 2003). Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Indah ayu, 2003). Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fasa berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen (Indah ayu, 2003). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-). Tingginya konsentrasi kapur terlarut membuat warna air dari Air Terjun Havasu terlihat berwarna turquoise (Indah ayu, 2003). Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katoda, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH-). Sementara itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katoda. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut 2H2O(I)→2H2(g)+O2(g) (Indah ayu, 2003). Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung pada elektroda dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen (Indah ayu, 2003). 2.3 Imbibisi Imbibisi juga dapat didefinisikan sebagai peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat hidrofilik seperti protein, pati, selulosa dll. Yang menyebabkan zat-zat tersebut dapat mengembang setelah menyerap air disebut potensial matriks atau potensial imbibisi. Banyaknya air yang dapat di imbibisi sangat tergantung pada potensial air yang juga tergantung konsentrasi zat terlarut (Penuntun praktikum fistum, 2009). Dalam sel tumbuhan, imbibisi diartikan kemampuan dinding sel dan plasma sel untuk menyerap air dari luar sel. Contoh penyerapan air oleh benih Proses awal perkecambahan, benih akan membesar, kulit benih pecah, dan berkecambah (Aiini, 2009). Syarat terjadinya imbibisi adalah Perbedaan antara benih dengan larutan, dimana benih < larutan ada tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks, bersifat hidrofil berupa protein, pati, selulose volume air yang diserap + volume biji mula-mula > volume biji setelah menyerap air, sebagian air telah digunakan untuk menjalankan proses metabolisme. Proses metaboslime adalah aktivasi enzim, hidrolisis cadangan makanan, respirasi (Aiini, 2009). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Imbibisi ini dilaksanakan pada hari rabu 19 Oktober 2011 mulai 14.00-selesai Wita di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah Cawan petri dan Timbangan. Bahan-bahan yang digunakan adalah Biji kering kacang hijau (Phaseolus radiatus.L), Larutan Nacl 4.0 M, 2.0 M, 1 M, 0.8 M, 0.8 M, 0.6, dan 0.4 M, dam juga Aquades. 3.3 Cara Kerja Menyiapkan tujuh cawan petri dengan kertas saring di dalamnya, mengisi masing-masing cawan petri dengan 5 ml larutan NaCl yang di sediakan dan aquades sebagai kontrol. Menimbang 20 biji kering, lalu mencatat beratnya dan meletakkan pada satu cawan petri, kemudian menimbang dan mencatat berat cawan petri yang lain. Menyimpan cawan petri tersebut selama 48 jam, kemudian mengambil biji dari petri mengeringkan dengan kertas tissue dan menimbang kembali beratnya. Terakhir menghitung persentase air yang masuk kedalam biji pada setiap larutan terhadap berat kering mula-mula. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4. Perubahan berat biji Kacang Hijau (Phaseolus radiatus.L) yang dilarutkan selama 48 jam. No Konsentrasi Berat awal (g) Berat akhir (g) Selisih (g) % air yang masuk 1 Control 1.13 10.65 9.52 842.47 2 4.0 M 1.27 13.25 11.98 943.30 3 2.0 M 1.25 15.24 13.99 1119.2 4 1.0 M 1.20 13.86 12.66 1055 5 0.8 M 1.27 10.30 9.03 711.02 6 0.6 M 1.20 11.16 9.96 830 7 0.4 M 1.11 12.77 11.66 105.45 %Rata-rata total air yang masuk= (total selisih)/(Total Berat awal) X100 %Rata-rata total air yang masuk= 78.8/8.43 X100 = 934.75 Selisih = Berat akhir – berat awal 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, terlihat jelas perbedaan antara berat awal dan berat akhir. Hal ini dikarenakan adanya penyerapan air oleh zat-zat hidrofilik pada biji kacang hijau (Phaseolus radiatus.L). Sehingga mendapatkan hasil yaitu konsentrasi control dengan berat awal 1.13 gr, berat akhir 10.65 gr, selisih 9.52 gr dan air yang masuk 842.47 %. Konsentrasi 4.0 M dengan berat awal 1.27 gr, berat akhir 13.25 gr, selisih 11.98 gr dan air yang masuk -943.30 %. Konsentrasi 2.0 M dengan berat awal 1.25 gr, berat akhir 15.24 gr, selisih 13.99 gr, dan jumlah air yang masuk 1119.2. Konsentrasi 1 M dengan berat awal 1.20 gr, Berat akhir 13.86 gr, selisih 12.66 gr dan air yang masuk 10.55 %. Konsentrasi 0.8 M dengan berat awal 1.27 gr, berat akhir 10.30 gr, selisih 9.03 gr dan air yang masuk 711.02 %. Konsentrasi 0.6 M dengan berat awal 1.20 gr, berat akhir 11.16 gr, selisih -9.96 gr dan jumlah air yang masuk 830 %. Konsentrasi 0.4 M dengan berat awal 1.11 gr, berat akhir 12.77 gr, selisih 11.66 dan jumlah air yang masuk 1050.45 %. Diperoleh hasil rata-rata dengan total berat awal 8.43 gr, total berat akhir 87.23 gr, selisih 78.8 gr dan total (%) jumlah air yang masuk -934.75. Kacang hijau (Phaseolus radiatus) merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram (Soeprapto S,H., 1993). Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat "hidrofilik" (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat "hidrofobik" (takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air (Indah ayu, 2003). Air merupakan cairan singular, oleh karena kapasitasnya untuk membentuk jaringan molekul 3 dimensi dengan ikatan hidrogen yang mutual. Hal ini disebabkan karena setiap molekul air mempunyai 4 muatan fraksional dengan arah tetrahedron, 2 muatan positif dari kedua atom hidrogen dan dua muatan negatif dari atom oksigen. Akibatnya, setiap molekul air dapat membentuk 4 ikatan hidrogen dengan molekul disekitarnya. Sebagai contoh, sebuah atom hidrogen yang terletak di antara dua atom oksigen, akan membentuk satu ikatan kovalen dengan satu atom oksigen dan satu ikatan hidrogen dengan atom oksigen lainnya, seperti yang terjadi pada es. Perubahan densitas molekul air akan berpengaruh pada kemampuannya untuk melarutkan partikel. Oleh karena sifat muatan fraksional molekul, pada umumnya, air merupakan zat pelarut yang baik untuk partikel bermuatan atau ion, namun tidak bagi senyawa hidrokarbon (Indah ayu, 2003). Dalam sel tumbuhan, imbibisi diartikan kemampuan dinding sel dan plasma sel untuk menyerap air dari luar sel. Contoh penyerapan air oleh benih Proses awal perkecambahan, benih akan membesar, kulit benih pecah, dan berkecambah (Aiini, 2009). Syarat terjadinya imbibisi adalah Perbedaan antara benih dengan larutan, dimana benih < larutan ada tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks, bersifat hidrofil berupa protein, pati, selulose volume air yang diserap + volume biji mula-mula > volume biji setelah menyerap air, sebagian air telah digunakan untuk menjalankan proses metabolisme. Proses metaboslime adalah aktivasi enzim, hidrolisis cadangan makanan, respirasi (Aiini, 2009). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan Perubahan berat biji kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Terlihat jelas adanya perbedaan antara berat awal dan berat akhir. 2. Hasil penimbangan selama 48 jam adalah berat akhir konsentrasi control adalah 10.65, 4.0 M adalah 13.25, 2.0 M adalah 15.24, 1 M adalah 13.86, 0.8 adalah 10.30, 0.6 adalah 11.16 dan 0.4 adalah 12.77. 3. Konsentrasi control dengan jumlah air yang masuk 842.47%, Konsentrasi 4.0 M dengan jumlah air yang masuk 943.30 %, konsentrasi 2.0 M dengan jumlah 1119.2, 1 M dengan jumlah air yang masuk 1055, 0.8 M dengan jumlah air yang masuk 711.02, 0.6 M dengan jumlah air 830 dan 0.4 dengan jumlah air 105.45. 5.2 Saran Alat dan bahan yang di Laboratorium perlu dilengkapi atau diperbaiki. Pada saat melakukan penimbangan perubahan berat biji Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L), alat (timbangan) tidak dapat berfungsi dengan baik. Sehingga menyebabkan kesalahan pada perhitungan dan hasil perhitungan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zat pengatur tumbuh adalah senyawa yang berperan aktiv dalam pengontrolan proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Zat tersebut memiliki peran yang sangat luas termasuk pada tahap perkecambahan. Pada praktikum ini praktikan akan melakukan pengamatan pada Zat pengatur tumbuh Kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) dan akan menghitung persentase Kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang disimpan selama 3 hari. ZPT (zat pengatur tumbuh) dibuat agar tanaman memacu pembentukan fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada di dalam tanaman atau menggantikan fungsi dan peran hormon bila tanaman kurang dapat memproduksi hormon dengan baik(Ilyas, 2011). Hormon yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai arti : merangsang, membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia sehingga fito-hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman yang bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman (Ilyas, 2011). Sejarah giberelin sedikit unik. Awal mulanya giberelin ditemukan oleh Eiichi Kurowasa, orang Jepang, pada tahun 1926. Pada tahun itu Pagerang Diponegoro sedang giat-giatnya berperang melawan penjajah londo. Kurosawa sebenarnya sedang meneliti tentang penyakit aneh pada padi yang disebut ‘bakane’. Padi yang terserang penyakit ini tumbuh membesar tidak normal. Batang dan daunnya membesar dan memanjang. Kurosawa berhasil mengisolasi jamur penyebab penyakit ini yang dinamakan Giberrella fujikori. Ketika jamur ini diinfeksikan ke tanaman yang sehat, tanaman yang sehat memperlihatkan gejala itu. Kurang lebih satu dasawarsa kemudian penelitian ini dilanjutkan oleh Yabuta dan Hayashi tahun 1939. Kedua orang jepang ini melangkah lebih maju dan berhasil mengisolasi kristal protein yang dihasilkan oleh Giberrella fujikori. Kristal ini bisa menstimulasi pertumbuhan akar kecambah (Isroi, 2010). Setelah perang dunia ke dua, pada tahun 1951 Stodola dan teman-temannya melanjutkan penelitian ini dan menemukan ‘Giberelin A’ dan ‘Giberelin X’. Hasil penelitian selanjutnya ditemukan varian dari giberelin, yaitu GA1, GA2, dan GA3. Pada saat yang hampir bersamaan dilakukan penelitian juga di Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris. Dari penelitian ini juga ditemukan GA3. Selanjutnya nama Gibberellic acid disepakati oleh kelompok peneliti itu dan populer hingga jaman sekarang. Saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 126 macam giberelin. Giberelin diberi nama dengan GAn diurutkan berdasarkan urutan ditemukannya senyawa giberlin tersebut. Giberelin yang ditemukan pertama kali adalah GA3 (Isroi, 2010). Dalam pertanian, serangan hama dan penyakit pada pertanaman merupakan salah satu penghambat tercapainya potensi produksi dari suatu jenis tanaman. Pengendalian hama dan penyakit yang tepat akan sangat berpengaruh pada hasil akhir atau produksi pertanaman. Untuk dapat melakukan pengendalian yang tepat, pelaku pertanian (petani) perlu memiliki pengetahuan yang lengkap atas segala segi pertanamannya, mulai dari asal benih, sejarah pemanfaatan lahan, hingga pascapanen dan keberlangsungan (sustainability) dari pertanaman tersebut. Dengan berbagai pengetahuan tersebut, diharapkan pelaku pertanian dapat mengelola pertanamannya dengan tepat dan tetap memperhatikan kondisi lingkungan pertanamannya (Masbied, 2011). Selain meminimumkan kehilangan hasil atau pencapaian potensi produksi, penerapan Sanitary dan Fitosanitary di bidang produk pertanian sangat mendesak. Sangat perlu bagi para ilmuan Indonesia menyebarkan pengetahuan akan hal ini sekaligus aplikasinya di lapang demi memenuhi standart tersebut (Masbied, 2011). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui berbagai zat pengatur tumbuh pada kecambah biji. Kegunaan dari praktikum ini adalah, agar praktikum dapat menjelaskan zat pengatur tumbuh pada kecambah biji. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Zat Pengatur Tumbuh Yang dimaksud dengan ZPT disini adalah 2,4-D, 2,4-S-T, IBA, NAA. Penggunaan Zat pengatur tumbuh bila digunakan dengan konsentrasi rendah akan merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman, dan sebaliknya bila digunakan dalam jumlah besar/konsentrasi tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan tanaman. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan tekhnologi di bidang pertanian, dan berdasarkan berbagai macam penelitian maka ditemukan aneka ragam zat pengatur tumbuh yang dapat difungsikan sebagai herbisida untuk mematikan gulma atau tanaman pengganggu. ZPT dapat berubah fungsi menjadi racun bila dipakai melebihi kadar tertentu dan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat dipergunakan sebagai herbisida. Lebih lanjut didapatkan pula bahwa, zat pengatur tumbuh tertentu mempunyai sifat-sifat yang selektif sehingga gulma dapat dimatikan tetapi tanaman pokok yang dibudidayakan tidak terganggu. Di era tekhnologi moderen saat ini, ZPT yang banyak digunakan sebagai herbisida pemberantas gulma terutama adalah 2,4-D, 2,4,5-T dan MCPA atau MCP (Ilyas, 2011). Pengaruh 2,4-D, 2,4,5–S dan MPCA terhadap gulma bervariasi. Untuk pengaruh yang sama, penggunaan dosis MPCA biasanya lebih tinggi dari pada 2,4-D. Saat ini diantara 2,4-D, 2,4,5-T dan MCPA herbisida yang merupakan ZPT yang paling banyak digunakan adalah 2,4-D. Herbisida jenis 2,4-D ini sangat ideal karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan, tidak menyebabkan karatan, tidak mudah terbakar dan mudah diencerkan. Selain itu penggunaan Herbisida 2,4-D lebih populer pada lahan sawah dibandingkan yang lain karena mempunyai beberapa spesifikasi diantaranya dapat dipergunakan untuk mengendalikan gulma pada lahan sawah, tidak efektif untuk mengendalikan gulma jenis alang-alang namun sangat ampuh dalam membasmi gulma berdaun sempit (Ilyas, 2011). 2.2 Caumarin Caumarin adalah zat penghambat kerja enzim dalam perkecambahan. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain adalah ammonia, absicis acid, benzoid acid, ethylene, alcoid (Syamsuri, 2006). Caumarin merupakan senyawa kimia, sebuah toksin yang ditemukan dalam banyak tanaman, terutama dalam konsentrasi tinggi di tonka bean (Dipteryx odorata), vanili rumput (Anthoxanthum odoratum), Woodruff (Galium odoratum), mullein (Verbascum spp.), dan manis rumput (Hierochloe odorata). Memiliki wangian manis, mudah diakui sebagai jejak yang baru-mown hay, dan telah digunakan dalam perfumes sejak 1882. Memiliki nilai klinis medis sebagai pelopor untuk beberapa anticoagulants, terutama dan digunakan sebagai media mendapatkan dalam beberapa dye laser (Sudaryono, 2009). 2.3 2,4-dichlorophenoxy acetic acid Senyawa sintetis 2,4-D (2,4-dichlorophenoxy acetic acid) merupakan senyawa sintetis yang banyak digunakan untuk merangsang atau menghambat proses perkembangan tumbuhan. Penggunaanya sebagai herbisida pembasmi guIrna efektif untuk jenis guIna yang berdaun lebar, seperti Limnocharis flava, Monochoria vaginalis, Cyperus difformis, Fimristylis miliaceae, Scirpus juncoides di lahan sawah. Bila dibandingkan dengan IAA/auksin, penggunaan 2,4-D secara fisiologis lebih aktif dan lebih tahan lama didalam jaringan tumbuhan, serta harganya lebih murah (Yoga setiawan, 2011). 2.4 Giberelin Giberelin (GA) merupakan hormon yang dapat ditemukan pada hampir semua seluruh siklus hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi perkecambahan biji, batang perpanjangan, induksi bunga, pengembangan anter, perkembangan biji dan pertumbuhan pericarp. Selain itu, hormon ini juga berperan dalam respon menanggapi rangsang dari melalui regulasi fisiologis berkaitan dengan mekanisme biosntesis GA (Ilyas, 2011). Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih. Hingga tahun 2008 terdapat lebih lebih dari seratus GA telah diidentifikasi dari tanaman dan hanya sejumlah kecil dari mereka, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi sebagai bioaktif hormone (Ilyas, 2011). Giberelin pertama kali dikenal pada tahun 1926 oleh seorang ilmuwan Jepang, Eiichi Kurosawa, yang meneliti tentang penyakit padi "bakanae". Hormon ini pertama kali diisolasi pada tahun 1935 oleh Teijiro Yabuta, dari strain jamur (Gibberella fujikuroi). oleh Kurosawa Yabuta disebut isolat giberelin (Ilyas, 2011). Semua molekul giberelin mengandung ‘Gibban Skeleton’. Giberelin dapat dikelompokkan mejadi dua kelompok berdasarkan jumlah atom C, yaitu yang mengandung 19 atom C dan 20 atom C. Sedangkan berdasarkan posisi gugus hydroksil dapat dibedakan menjadi gugu hidroksil yang berada di atom C nomor 3 dan nomor 13 (Isroi, 2010). Fungsi giberelin pada tanaman sangat banyak dan tergantung pada jenis giberelin yang ada di dalam tanaman tersebut. Beberapa proses fisiologi yang dirangsang oleh giberelin antara lain adalah seperti Merangsang batang dengan merangsang pembelahan sel dan perpanjangan, Merangsang lari / berbunga dalam menanggapi hari panjang, Breaks dormansi benih di beberapa tanaman yang memerlukan stratifikasi atau cahaya untuk menginduksi perkecambahan, Merangsang produksi enzim (a-amilase) di germinating butir serealia untuk mobilisasi cadangan benih, Menginduksi maleness di bunga dioecious (ekspresi seksual), Dapat menyebabkan parthenocarpic (tanpa biji) pengembangan buah, Dapatkah penundaan penuaan dalam daun dan buah jeruk, dan Genetik Dwarsfism (Isroi, 2010). Peranan giberelin terhadap pembungaan telah dibuktikan oleh banyak penelitian. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Henny (1981), pemberian GA3 pada tanaman Spathiphyllum mauna. Ternyata pemberian GA3 meningkatkan pembungaan setelah beberapa minggu perlakuan (Isroi, 2010). 2.5 Urea Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme (Masbied, 2011). Proses terbentuknya urea Urea terbentuk melalui proses oksidasi yang terjadi pada hati. Eritrosit atau sel darah merah yang sudah rusak (120 hari) dirombak menjadi 'haemo' dan'globin'. Selanjutnya 'haemo' akan diubah menjadi zat warna empedu yaitu bilirubin dan urobilin yang mengandung urea dan amonia yang akan keluar bersama urin dan feses (Masbied, 2011). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Pengatur Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perkecambahan Biji ini dilakukan pada hari rabu 26 Oktober 2011 mulai 14.00-selesai Wita di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah Cawan petri dan Tissue. Bahan-bahan yang digunakan adalah Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus.L), Aquades, 0,5 ppm caumarin, 7,0 ppm 2,4-D, 0,02 ppm giberellin, dan 12,5 Pupuk urea. 3.3 Cara kerja Mengisi 5 cawan petri yang dilapisi tissue dengan larutan yang disediakan (tiga larutan zat pengatur tumbuh dan satu aquades sebagai control), meletakkan dengan teratur 25 biji pada setiap cawan petri. Kemudian menyimpan cawan petri di tempat yang gelap. Mengamati setiap hari, menghitung persentase biji yang berkecambah. Mengeluarkan setiap biji yang berkecambah dari cawan petri. Terakhir membandingkan hasilnya dari semua perlakuan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5. Persentase biji berkecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) pada beberapa ZPT Hari ∑ Biji berkecambah untuk larutan ∑ Biji Caumarin 2,4 D Giberellin urea Aquades 1 25 2 2 10 8 16 2 25 14 7 1 7 6 3 25 6 15 3 9 2 Persentase 25 88% 96% 56% 96% 96% Persentase biji kecambah=(Jumlah berkecambah)/(Jumlah biji)×100 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat dilihat dengan jelas adanya perbedaan antara jumlah dan persentase kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) pada setiap larutan yang berbeda-beda. Kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang disimpan selama 3 hari memiliki hasil sebagai berikut, panjang terakhir untuk control 4,6cm. Caumarin hari pertama 2 biji, hari kedua 14 biji , hari ketiga 6 biji, dengan jumlah persentase 88% dan. 2,4-D hari pertama 2 biji, hari kedua 7 biji , hari ketiga 15 biji, dengan jumlah persentase 96%. Giberellin hari pertama 10 biji, hari kedua 1 biji , hari ketiga 3 biji, dengan jumlah persentase 56%. Urea hari pertama 8 biji, hari kedua 7 biji , hari ketiga 9biji, dengan jumlah persentase 96%. Aquades hari pertama 16 biji, hari kedua 6 biji , hari ketiga 2 biji, dengan jumlah persentase 96%. Terjadinya perkecambahan pada kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L), di karenakan karena adanya ZPT (Zat pengatur tumbuh) pada setiap larutan yang berbeda. Dengan adanya perubahan tersebut kita dapat mengetahui adanya pengaruh ZPT pada perkecambahan biji. Zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang proses pertumbuhan, differensiasi dan per-kembangan tanaman. Proses-proses lain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stotama, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan (Iptek, 2008). Senyawa hormon tanaman dan zat pengatur tumbuh,mencirikannya sebagai berikut, Fitohormon atau hormon tanaman ada-lah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut, menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkem-bangan tanaman. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum dan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan (Iptek, 2008). Caumarin adalah zat penghambat kerja enzim dalam perkecambahan. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain adalah ammonia, absicis acid, benzoid acid, ethylene, alcoid (Syamsuri, 2006). Pemakaian zat pengatur tumbuh asam 2,4–D (2,4-dichlorophenoxy acetic acid) biasanya digunakan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang singkat, antara 2 – 4 minggu karena merupakan auksin kuat, artinya auksin ini tidak dapat diuraikan di dalam tubuh tanaman . Sebab pada suatu dosis tertentu asam 2,4-D sanggup membuat mutasi-mutasi asam 2,4–D mempunyai sifat fitotoksisitas yang tinggi sehingga dapat bersifat herbisida (Yoga setiawan, 2011). Giberelin atau asam giberelat (GA) merupakan hormon perangsang pertumbuhan tanaman yang diperoleh dari Gibberella fujikuroi atau Fusarium moniliforme, aplikasi untuk memicu munculnya bunga dan pembungaan yang serempak (Misalnya GA3 yang termasuk hormon perangsang pertumbuhan golongan gas) merek dagangantara lain: ProGib. Giberalin alami banyak terdapat didalam umbi bawang merah (Ilyas, 2011) Semua giberelin yang ditemukan adalah senyawa diterpenoid. Semua kelompok terpinoid terbentuk dari unit isoprene yang memiliki 5 atom karbon (C). Unit-unit isoprene ini dapat bergabung menghasilkan monoterpene (C-10), sesqueterpene (C-15), diterpene (C-20), dan triterpene (C-30). Asam diterpenoid disintesis melalui jalur terpenoid dan dimodifikasi di dalam retikulum endoplasma dan sitosol sampai menjadi senyawa yang aktif (Isroi, 2010). Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme (Masbied, 2011). Proses terbentuknya urea Urea terbentuk melalui proses oksidasi yang terjadi pada hati. Eritrosit atau sel darah merah yang sudah rusak (120 hari) dirombak menjadi 'haemo' dan'globin'. Selanjutnya 'haemo' akan diubah menjadi zat warna empedu yaitu bilirubin dan urobilin yang mengandung urea dan amonia yang akan keluar bersama urin dan feses (Masbied, 2011). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perkecambahan diperloeh kesimpulan yaitu : 1. Adanya perbedaan jumlah yang berkecambah pada tiap larutan. Caumarin hari pertama 2 biji, hari kedua 14 biji , hari ketiga 6 biji, dengan jumlah persentase 88%. 2,4-D hari pertama 2 biji, hari kedua 7 biji , hari ketiga 15 biji, dengan jumlah persentase 96%. Giberellin hari pertama 10 biji, hari kedua 1 biji , hari ketiga 3 biji, dengan jumlah persentase 56%. Urea hari pertama 8 biji, hari kedua 7 biji , hari ketiga 9 biji, dengan jumlah persentase 96%. Aquades hari pertama 16 biji, hari kedua 6 biji , hari ketiga 2 biji, dengan jumlah persentase 96%. 2. Terdapat perbedaan antara jumlah dan persentase kecambah Kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) pada setiap larutan yang berbeda-beda. 3. Zat pengatur tumbuh dengan konsentrasi rendah dapat merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. 5.2 Saran Manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan, diharapkan kersamanya sesama praktikan, agar hasil praktikum bias memuaskan seperti yang kita harapkan bersama. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Auksin adalah hormon yang terdapat pada tumbuhan yang berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan berfungsi pada proses pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Aktivitasnya meliputi perangsangan dan penghambatan pertumbuhan. Dalam praktikum ini, saya dapat mengetahui adanya pengaruh auksin terhadap pemanjangan jaringan, baik pada akar ataupun pada batang, dengan melakukan pengamatan pengaruh auksin pada berbagai larutan IAA. Hormon tanaman seperti indolasetat yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman., gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan. Auksin sering digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dan sebagai bahan aktif sering yang digunakan dalam persiapan hortikultura komersial terutama untuk akar batang. Mereka juga dapat digunakan untuk merangsang pembungaan secara seragam, untuk mengatur pembuahan, dan untuk mencegah gugur buah.(yang termasuk Auksin IBA, NAA, 2,4-D). Auksin Golongan NAA memakai merek dagang antara lain: Rootone-F, Atonik. Sedang Auksin 2,4 D dijual dengan nama Hidrasil. Auksin alami banyak terdapat didalam cairan biji jagung muda yang masih berwarna kuning, air seni sapi, ujung koleoptil tanaman oat, umbi bawang merah dan air kelapa (Ilyas, 2011). Golongan Auksin Indole Aceti Acid (IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Yang paling penting dari keluarga auksin adalah indole-3-asam asetat (IAA). Ini menghasilkan efek auksin pada tanaman secara menyeluruh, dan yang paling ampuh dari auksin alami, namun molekul kimiawi IAA adalah yang paling labil di larutan air, sehingga IAA tidak digunakan secara komersial sebagai regulator pertumbuhan tanaman (Ilyas, 2011). Yang termasuk golongan auksin alam 4-chloro-asam indoleasetis, asam fenilasetis (PAA) dan indole-3-asam butirik (IBA). Sedang auksin buatan antara lain 1-asam nafthaleneasetis (NAA), 2,4-asam dichlorophenoxyasetis (2,4-D), dan lain-lain. Auksin dosis tinggi dapat merangsang produksi Etilen. Kelebihan Etilen malah dapat menghalangi pertumbuhan, menyebabkan gugur daun (daun amputasi), dan bahkan membunuh tanaman. Beberapa auksin sintetis seperti 2,4-D dan 2,4,5-asam trichlorophenoxyacetic (2,4,5-T) telah digunakan sebagai herbisida (Ilyas, 2011). Tanaman berdaun luas (dicotil) jauh lebih rentan terkena auksin daripada daun tanaman monokotil seperti tanaman rumput-rumputan. Auksin sintetis ini adalah agen aktif dalam “Agen Oranye” yaitu defoliant yang digunakan secara ekstensif oleh pasukan Amerika di perang Vietnam (Ilyas, 2011). Jaringan tumbuhan dapat dibagi 2 macam yaitu Jaringan meristem dan Jaringan dewasa jaringan-meristem. Jaringan meristem adalah jaringan yang terus menerus membelah. Jaringan meristem juga dibagi 2 macam yaitu Jaringan Meristem Primer dan jaringan meristem sekunder. Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Contoh ujung batang, ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer. Jaringan Meristem Sekunder adalah jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem skunder yaitu cambium (Ilyas, 2011). Kambium adalah lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar . Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka ). Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu.Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu (Ilyas, 2011). Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah berhenti membelah. Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu jaringan epidermis. Jaringan epidermis adalah Jaringan yang letaknya paling luar, menutupi permukaan tubuh tumbuhan. Bentuk jaringan epidermis bermacam-macam. Pada tumbuhan yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder, akar dan batangnya sudah tidak lagi memiliki jaringan epidermis. Fungsi jaringan epidermis untuk melindungi jaringan di sebelah dalamnya (ilyas, 2011). Jaringan perenkim nama lainnya adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim (ilyas, 2011). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui hormon auksin dalam pengontrolan pemanjangan jaringan. Kegunaannya adalah agar praktikan dapat memahami salah satu efek dari auksin dalam pemanjangan jaringan. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Auksin Istilah auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan. Auksin ini pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di negeri belanda pada tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kerah cahaya. Fenomena pembengkokan ini dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak ditemukan Went didaerah koleoptil. Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada sisi yang tidak terkena cahaya matahari. Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa – senyawa tersebut adalah asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA) (Dwidjoseputro, 1992). Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman.nama lain dari hormon ini adalah IAA atau asam indol asetat.letak dari hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar, fungsi dari hormon auksin ini dalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar manapun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel.mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. Kerja hormone auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin (Ilyas, 2011). Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena jika auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme. Untuk membedakan tanaman yang memiliki hormon yang banyak atau sedikit qita harus mengetahui bentuk anatomi dan fisiologi pada tanaman sehingga kita lebih mudah untuk mengetahuinya. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang dan gelap diantaranya. Untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan.hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari, auksin memacu protein tertentu yang ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ ini mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis. Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma. Selain memacu pemanjangan sel yang menyebabkan pemanjangan batang dan akar, peranan auksin lainnya adalah kombinasi auksin dan giberelin memacu perkembangan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium pembuluh sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang (Ilyas, 2011). Selain itu auksin (IAA) sering dipakai pada budidaya tanaman antara lain untuk menghasilkan buah tomat, mentimun dan terong tanpa biji dipakai pada pengendalian pertumbuhan gulma berdaun lebar dari tumbuhan dikotil di perkebunan jagung dan memacu perkembangan meristem akar adventif dari stek mawar dan bunga potong lainnya. Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali (Ilyas, 2011). Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya kan mampu menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar (Ildah, 2009). Asam indol-3 asetat (IAA) diidentifikasi tahun 1934 sebagai senyawa alami yang menunjukkan aktivitas auksin yang mendorong pembentukan akar adventif. IAA sintetik juga telah terbukti mendorong pertumbuhan akar adventif. Pada era yang sama juga ditemukan asam indol butirat (IBA) dan asam naptalen asetat (NAA) yang mempunyai efek sama dengan IAA. Dan skarang sesungguhnya, hal itu ditunjukkan bahwa inisiasi sel untuk mmbentuk akar tergantung dari kandungan auksin. Pembentukan inisiasi akar dalam batang terbukti tergantung pada tersedianya auksin di dalam tanaman ditambah pemacu auksin (Rooting Co-factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordia akar (Dwidjoseputro, 1992). Auksin berfungsi dalam pengembangan sel–sel yang ada di daerah belakang meristem. Sel – sel tersebut menjadi panjang dan banyak berisi air. Ternyata auksin mempengaruhi pengembangan dinding sel, di mana mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Maka, karena tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk meresap air dari sel – sel yang ada di bawahnya, karena sel – sel yang ada di dekat titik tumbuh mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Dengan demikiankita peroleh sel yang panjang dengan vakuola yang besar di daerah belakang titik tumbuh. Pada tanaman yang dibiakkan dengan stek, stek yang akan ditanam harus mempunyai tunas agar dapat menghasilkan akar. Sehingga harus ada sesuatu yang dihasilkan oleh tunas dan yang diedarkan ke daerah bawahnya, yaitu ke dasar pemotongan stek tersebut. Zat itu disebut juga auksin, atau ada yang menyebutnya rizokalin. Ternyata IAA dan beberapa zat lain yang dibuat di luar tubuh tanaman dapat menggantikan rizokalin tersebut. Auksin sangat berpengaruh terhadap pembentukan akar, pembentukan tunas, pembentukan buah, gugurnya daun buah, dan sebagai herbisida (Ildah, 2009). 2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Auksin Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman.nama lain dari hormon ini adalah IAA atau asam indol asetat. Letak dari hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar (Aldi agusran, 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja auksin dalam sel adalah cahaya, Sinar dapat merusak auksin dan dapat menyebabkan pemindahan auksin ke jurusan yang menjauhi sinar. Sinar nila merusak auksin atau mencegah terjadinya auksin. Ada dua macam pigmen yang suka meresap sinar nila, yaitu betakarotin dan riboflavin. Riboflavin terdapat di dalam ujung-ujung batang, dan meskipun tanpa betakarotin pengaruh fototropisme tetap ada, sehingga riboflavin merupakan pigmen yang meresap sinar nila yang dapat merusak enzim-enzim yang membantu pembentukan IAA dan triptofan. Gaya berat Peredaran auksin adalah dari puncak menuju ke dasar (bagian akar). Sisi bawah dari ujung batang menerima lebih banyak auksin daripada sisi sebelah atas sebagai akibat dari pengaruh gaya berat. Kadar auksin, kadar auksin yang tinggi akan menggiatkan pengembangan sel-sel batang, akan tetapi menghambat pertumbuhan sel-sel akar (Aldi agusran, 2010). 2.3 Hipokotil Hipokotil merupakan pertumbuhan yang memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Kotiledon tetap berada di dalam tanah. Singkatnya, biji tidak terdorong ke atas dan tetap berada di dalam tanah. Adapun contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung. Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Dan pada perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau dan jarak. Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk memperkirakan kedalaman tanaman (Aldi agusran, 2010). Pada perkecambahan hipogeal yaitu perkecambahan yang ditandai dengan terbentuknya bakal batang yang muncul ke permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah (bagian hipokotil yang tetap berada di dalam tanah). Dalam suatu tumbuhan yang mengalami perkecambahan terdapat planula, kulit biji, epikotil, hipokotil, radikula, kolioptil dan endosperm (Aldi agusran, 2010). Hipokotil adalah semai antara batang dan akar. Bagi beberapa jenis tumbuhan mangrove, Hipokotil merupakan bagian yang sangat penting untuk menyimpan cadangan makanan dan bahan cadangan lainnya. Hipokotil merupakan “kecambah” yang keluar dari buahnya. Hipokotil juga merupakan bagian bawah pangkal pada kecambah yang melekkat pada kotiledon (Aldi agusran, 2010). Pada perkecambahan hypogeal terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga tertarik ke atas tanah. Perkecambahan epigeal terjadi apabila pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat keatas tanah (Aldi agusran, 2010). 2.4 Jaringan Tumbuhan Jaringan tumbuhan dapat dibagi 2 macam Jaringan meristem dan Jaringan dewasa. Jaringan meristem adalah jaringan yang terus menerus membelah. Jaringan meristem juga dapat dibagi 2 macam yaitu Jaringan Meristem Primer. Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Misalnya ujung batang, ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer (Ilyas, 2011). Jaringan meristem sekunder adalah jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem skunder yaitu kambium. Kambium adalah lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar . Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae(tumbuhan berbiji terbuka ) (Ilyas, 2011). Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu.Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu. Berdasarkan letaknya jaringan meristem dibedakan menjadi tiga yaitu meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral (Ilyas, 2011). Meristem apikal adalah meristem yang terdapat pada ujung akar dan pada ujung batang. Meristem apikal selalu menghasilkan sel-sel untuk tumbuh memanjang.Pertumbuhan memanjang akibat aktivitas meristem apikal disebut pertumbuhan primer. Jaringan yang terbentuk dari meristem apikal disebut jaringan primer. Meristem interkalar atau meristem antara adalah meristem yang terletak diantara jaringan meristem primer dan jaringan dewasa. Contoh tumbuhan yang memiliki meristem interkalar adalah batang rumput-rumputan (Graminae) (Ilyas, 2011). Pertumbuhan sel meristem interkalar menyebabkan pemanjangan batang lebih cepat, sebelum tumbuhnya bunga. Meristem lateral atau meristem samping adalah meristem yang menyebabkan pertumbuhan skunder. Pertumbuhan skunder adalah proses pertumbuhan yang menyebabkan bertambah besarnya akar dan batang tumbuhan. Meristem lateral disebut juga sebagai kambium. Kambium terbentuk dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang dan membentuk jaringan skunder pada bidang yang sejajar dengan akar dan batang (Ilyas, 2011). Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah berhenti membelah. Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu jaringan-epidermis adalah Jaringan yang letaknya paling luar, menutupi permukaan tubuh tumbuhan. Bentuk jaringan epidermis bermacam-macam. Pada tumbuhan yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder, akar dan batangnya sudah tidak lagi memiliki jaringan epidermis. Fungsi jaringan epidermis untuk melindungi jaringan di sebelah dalamnya. Jaringan perenkim, Nama lainnya adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim (Ilyas, 2011). Berdasarkan fungsinya jaringan parenkim dibedakan menjadi beberapa macam antara lain adalah Parenkim asimilasi (klorenkim), Parenkim penimbun, Parenkim air, Parenkim penyimpan udara (aerenkim), Parenkim asimilasi (klorenkim) adalah sel parenkim yang mengandung klorofil dan berfungsi untuk fotosintesis, Parenkim penimbun adalah sel parenkim ini dapat menyimpan cadangan makanan yang berbeda sebagai larutan di dalam vakuola, bentuk partikel padat, atau cairan di dalam sitoplasma, Parenkim air adalah sel parenkim yang mampu menyimpan air. Umumnya terdapat pada tumbuhan yang hidup didaerah kering (xerofit), tumbuhan epifit, dan tumbuhan sukulen, dan Parenkim udara (aerenkim) adalah jaringan parenkim yang mampu menyimpan udara karena mempunyai ruang antar sel yang besar. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan hidrofit (Ilyas, 2011). Jaringan Penguat/Penyokong nama lainnya stereon. Fungsinya untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan. Terdiri dari kolenkim dan sklerenkim. Kolenkim Sebagian besar dinding sel jaringan kolenkim terdiri dari senyawa selulosa merupakan jaringan penguat pada organ tubuh muda atau bagian tubuh tumbuhan yang lunak. Sklerenkim Selain mengandung selulosa dinding sel, jaringan sklerenkim mengandung senyawa lignin, sehingga sel-selnya menjadi kuat dan keras. Sklerenkim terdiri dari dua macam yaitu serabut/serat dan sklereid atau sel batu. Batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid (Ilyas 2011). Jaringan pengangkut bertugas mengangkut zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Ada 2 macam jaringan yakni xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh lapis/pembuluh kulit kayu. Xilem bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari akar ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Xilem ada 2 macam trakea dan trakeid. Floem bertugas mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan (Ilyas 2011). Jaringan-gabus fungsi jaringan gabus adalah untuk melindungi jaringan lain agar tidak kehilangan banyak air, mengingat sel-sel gabus yang bersifat kedap air. Pada Dikotil, jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus atau felogen, pembentukan jaringan gabus ke arah dalam berupa sel-sel hidup yang disebut feloderm, ke arah luar berupa sel-sel mati yang disebut felem (Ilyas 2011). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Fisiologi Tumbuhan tentang Pengatur Zat Pengaruh auksin terhadap pemanjangan jaringan ini dilakukan pada hari rabu 26 Oktober 2011 mulai 14.00-selesai Wita di Laboratorium Holtikultura Universitas Tadulako Palu. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah cawan petri Pisau atau cutter dan loop. Bahan-bahan yang digunakan adalah Kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang berumur 5 hari (di kecambahkan ditempat gelap), Larutan IAA 0.01 ppm, 0.03 ppm, 0.05 ppm, 0.07 ppm, dan 0.09 ppm. 3.3 Cara kerja Membuat potongan hipokotil sepanjang 3 cm, menyiapkan larutan masing-masing 5 ml pada cawan petri dan menggunakan aquades sebagai control. Memasukkan masing-masing 5 potongan hipokotil pada larutan yang telah disediakan, Kemudian menyimpan ditempat gelap selama 48 jam. Melakukan pengukuran kembali setelah penyimpanan. Terakhir membuat perbandingan dari semua perlakuan yang ada. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 6. Pengaruh Auksin terhadap pemanjangan jaringan pada beberapa larutan IAA Perlakuan (m) Panjang awal (Cm) Panjang akhir (cm) selisih Control 3 4.6 1.6 0.01 ppm 3 3.86 0.86 0.03 ppm 3 3.76 0.76 0.05 ppm 3 3.72 0.72 0.07 ppm 3 12.5 9.5 0.09 ppm 3 4 1 Selisih = Panjang akhir – panjang awal 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, terdapat perbedaan panjang akhir dan selisih pada Kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang ditetesi beberapa larutan IAA sebanyak 5 ml. Pada control diperoleh panjang akhir 4.6 cm dengan selisih 1.6 cm, Pada perlakuan 0.01 ppm diperoleh panjang akhir 3.86 cm dengan selisih 0.86 cm, Pada perlakuan 0.03 ppm diperoleh panjang akhir 3.76 cm dengan selisih 0.76 cm, Pada perlakuan 0.05 ppm diperoleh panjang akhir 3.72 cm dengan selisih 0.72 cm, Pada perlakuan 0.07 ppm diperoleh panjang akhir 12.5 cm dengan selisih 9.5 cm, dan Pada perlakuan 0.01 ppm diperoleh panjang akhir 4 cm dengan selisih 1 cm. Adanya perubahan panjang dikarenakan bahwa auksin adalah dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan tergantung konsentrasinya. Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsi utama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang Beberapa auksin dihasilkan secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA (Indo-leacetic Acid), PAA (Phenylacetic Acid) dan IBA (Indolebutric Acid). Auksin juga sudah diproduksi secara sintetic, seperti NAA (Napthalene Acetic Acid) 2,4 D dan MCPA (2-Methyl-4 Chlorophenoxyacetic Acid) (Ildah, 2009). Auksin adalah ZPT yang memacu pemanjangan sel yang menyebabkan pemanjangan batang dan akar. Auksin bersifat memacu perkembangan meristem akar adventif sehingga sering digunakan sebagai zat perangsang tumbuh akar pada stek tanaman. Auksin juga mempengaruhi perkembangan buah, dominasi apikal, fototropisme dan geotropisme. Kombinasi auksin dengan giberelin memacu perkembangan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium pembuluh, sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang. Pengaruh auksin terhadap pertumbuhan jaringan tanaman diduga melalui dua cara yaitu menginduksi sekresi ion H+ keluar sel melalui dinding sel. Pengasaman dinding sel menyebabkan K+ diambil dan pengambilan ini mengurangi potensial air dalam sel. Akibatnya air masuk ke dalam sel dan sel membesar dan mempengaruhi metabolisme RNA yang berarti metabolisme protein, mungkin melalui transkripsi molekul RNA Memacu terjadinya dominansi apical (Ildah, 2009). Dalam jumlah sedikit memacu pertumbuhan akar. Mekanisme kerja auksin dalam mempengaruhi pemanjangan sel-sel tanaman di atas dapat dijelaskan dengan hipotesis sebagai auksin menginisiasi pemanjangan sel dengan cara mempengaruhi pengendoran /pelenturan dinding sel (Ildah, 2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja auksin dalam sel adalah cahaya, Sinar dapat merusak auksin dan dapat menyebabkan pemindahan auksin ke jurusan yang menjauhi sinar. Sinar nila merusak auksin atau mencegah terjadinya auksin. Ada dua macam pigmen yang suka meresap sinar nila, yaitu betakarotin dan riboflavin. Riboflavin terdapat di dalam ujung-ujung batang, dan meskipun tanpa betakarotin pengaruh fototropisme tetap ada, sehingga riboflavin merupakan pigmen yang meresap sinar nila yang dapat merusak enzim-enzim yang membantu pembentukan AIA dan triptofan. Gaya berat Peredaran auksin adalah dari puncak menuju ke dasar (bagian akar). Sisi bawah dari ujung batang menerima lebih banyak auksin daripada sisi sebelah atas sebagai akibat dari pengaruh gaya berat. Kadar auksin, kadar auksin yang tinggi akan menggiatkan pengembangan sel-sel batang, akan tetapi menghambat pertumbuhan sel-sel akar (Aldi agusran, 2010). Hipokotil adalah semai antara batang dan akar. Bagi beberapa jenis tumbuhan mangrove, Hipokotil merupakan bagian yang sangat penting untuk menyimpan cadangan makanan dan bahan cadangan lainnya. Hipokotil merupakan “kecambah” yang keluar dari buahnya. Hipokotil juga merupakan bagian bawah pangkal pada kecambah yang melekkat pada kotiledon (Aldi agusran, 2010). Jaringan tumbuhan dapat dibagi 2 macam yaitu Jaringan meristem dan Jaringan dewasa jaringan-meristem. Jaringan meristem adalah jaringan yang terus menerus membelah. Jaringan meristem juga dibagi 2 macam yaitu Jaringan Meristem Primer dan jaringan meristem sekunder. Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Contoh ujung batang, ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer. Jaringan Meristem Sekunder adalah jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem skunder yaitu cambium (Ilyas, 2011). Kambium adalah lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar . Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka ). Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu.Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu (Ilyas, 2011). Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah berhenti membelah. Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu jaringan epidermis. Jaringan epidermis adalah Jaringan yang letaknya paling luar, menutupi permukaan tubuh tumbuhan. Bentuk jaringan epidermis bermacam-macam. Pada tumbuhan yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder, akar dan batangnya sudah tidak lagi memiliki jaringan epidermis. Fungsi jaringan epidermis untuk melindungi jaringan di sebelah dalamnya (Ilyas, 2011). Jaringan perenkim nama lainnya adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim (Ilyas, 2011). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan Pengaruh Auksin Terhadap Pemanjangan Jaringan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat perbedaan panjang akhir dan selisih pada Kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus.L) yang ditetesi beberapa larutan IAA sebanyak 5 ml. Pada control diperoleh panjang akhir 4.6 cm dengan selisih 1.6 cm, Pada perlakuan 0.01 ppm diperoleh panjang akhir 3.86 cm dengan selisih 0.86 cm, Pada perlakuan 0.03 ppm diperoleh panjang akhir 3.76 cm dengan selisih 0.76 cm, Pada perlakuan 0.05 ppm diperoleh panjang akhir 3.72 cm dengan selisih 0.72 cm, Pada perlakuan 0.07 ppm diperoleh panjang akhir 12.5 cm dengan selisih 9.5 cm, dan Pada perlakuan 0.01 ppm diperoleh panjang akhir 4 cm dengan selisih 1 cm. 2. Aktivitas Auksin meliputi perangsangan dan penghambatan pertumbuhan dan tergantung pada konsentrasinya. 3. Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. 5.2 Saran Manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan, diharapkan kersamanya sesama praktikan, agar hasil praktikum bias memuaskan seperti yang kita harapkan bersama. DAFTAR PUSTAKA Aiini 2009, http://id.aiini.com/biology/2009/2073817/imbibisi/#ixzz1bJtZ2AAp, diakses pada tanggal 19 oktober 2011 Akbar yakob, 2009. http://4m3one.wordpress.com/2009/12/02/laju_transpirasi, di akses pada tanggal 14 okt0ber 2011 Aldiagusran,2010.http:/aldiagusran/ilmubiologibelajarbiologi.blogspot.com/2010 /01/auksin.html, di akses pada tanggal 26 oktober 2011 Anggabhandel009,2010.http://anggabhandel009.blogspot.com/2010/11/morfologi-kentang.html, di akses pada tanggal 17 oktober 2011 Arifiabits 2010, http://arifiabits.wordpress.com/2010/04/01/633, diakses pada tanggal 20 oktober 2011 Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press. Jakarta. Awalbarri2009,http://awalbarri.wordpress.com/2009/09/06/membuka_menutupnya_stomata.html, diakses pada tanggal 20 oktober 2011 Breanmanurung, 2011. http://breanmanurung.wordpress.com/2011/02/26/pigmen-klorofil, di akses pada tanggal 03 november 2011. Campbell, N.A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Erlangga. Jakarta. Cindy haryono, 2008. http://cindyharyono.wordpress.com/perbedaan-pigmen-klorofil-a-dan-klorofil-b/2008.html, di akses pada tanggal 03 november 2011. Darmawan, J dan Bharsjah, J. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Fisiologi Tanaman. Dnabi071,2011.http://Dnabi071.potensialair.Blogspot.Com, Di Akses Pada Tanggal 13 Oktober 2011 Dwidjoseputro, D., 1992, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Ekyowinners, 2010. http://ekyowinners.blogspot.com/2010/02/morfologi-jarak-pagar.html, di akses pada tanggal 17 oktober 2011 Gardner,F.P.,R.B.Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanamaman Budidaya. UI-Press. Jakarta. Heddy, S. 2000. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta. Ildah, 2009. http://i-me-myself-ildah.blogspot.com/2009/08/fisiologi-tumbuhan-auksin.html, di akses pada tanggal 26 oktober 2011 Ilham, 2009. http://ilham-agt08.blogspot.com/2009/04/pengertian-fotosintesis-adalah-suatu.html, diakses pada tanggal 03 November 2011. Ilyas,2011.http://ilyas-xp.blogspot.com/2011/04/laporan-praktikum-fispon zpt.html, di akses pada tanggal 27 oktober 2011. Inaw09, 2010. http://Inaw09.Student.Ipb.Ac.Id/2010/06/Tanaman_Kentang, Di Akses Pada Tanggal 13 Oktober 2011 Indah ayu 2003, http://indahayu.wordpress.com/2003/12/01/hidrofilik.html, diakses pada tanggal 19 oktober 2011 Iptek, 2008. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=221/2008, di akses pada tanggal 27 oktober 2011. Irwan ashari 2010, http://irwanashari.com/rhoeo-discolor.html, diakses pada tanggal 20 oktober 2011 Isroi, 2010. http://isroi.wordpress.com/2010/09/01/hormon-tanaman-giberelin/, di akses pada tanggal 27 oktober 2011. Masbied, 2011. http://www.masbied.com/2011/05/21/urea/#more-9554, di akses pada tanggal 27 oktober 2011. Riacahya, 2011. http://Riacahya.Tripod.Com/Ria4.Htm, Di Akses Pada Tanggal 13 Oktober 2011 Pawzee’s 2009, http://Pawzee’s.com/2009/08/03/stomata.html, diakses pada tanggal 20 oktober 2011 Panjicm, 2010. http://panjicm.wordpress.com/2010/07/15/31/, diakses pada tanggal 03 November 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. 2009. Fakultas Pertanian. Universitas Tadulako Plantamor, http://www.plantamor.com/2009/index.php?plant=981, diakses pada tangaal 19 oktober 2011 Ripiu, 2009. http://ripiu.com/article/read/akusukaitu/2009.html, di akses pada tanggal 03 november 2011. S,H. Soeprapto.1993.Bertanam Kacang Hijau.Penebar swadaya:Jakarta Syamsuri. 2006. Biologi SMA Kelas XII 3A. Erlangga. Jakarta. Yogasetiawan, 2011. http://yogasetiawan.blogspot.com/2011/uji-biologis-24-d_html, di akses pada tanggal 27 oktober 2011. Zona bawah 2011, http://zonabawah.blogspot.com/2011/04/faktor-lingkungan-yang-mempengaruhi stomata.html, diakses pada tanggal 20 oktober 2011 RIWAYAT PENULIS Sri Rahayu Lestari, lahir di Desa Karawana, Kec. Dolo, Kab.Donggala (Sekarang telah berganti nama, menjadi Kab.Sigi), Provinsi Sulawesi Tengah , pada tanggal 25 Januari 1993, dari pasangan Sahbudin Sumaila dan Tadria, anak pertama dari empat bersaudara. Menamatkan pendidikan Sekolah dasar (SDN) 05 Dolo, Kec.Dolo pada tahun 2004. Pada tahun itu saya melanjutkan ke SMPN 05 Biromaru dan menamatkan pendidikan pada tahun 2007. Setelah itu saya melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi di SMAN 01 Dolo dan menamatkan pendidikan pada tahun 2010. Sampai saat ini saya masih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Universitas Tadulako, Fakultas Pertanian, Program studi Agroteknologi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar